Tumpahan Minyak Cemari Pesisir Pulau Semau, Kebocoran Saat Pengangkatan Bangkai KM Kuala Emas Diduga Jadi Pemicu

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Sabtu, 1 Agustus 2026 | 22:28 WIB
Personel Ditpolairud Polda NTT bersama instansi terkait melakukan pemantauan dan penanganan tumpahan minyak yang mencemari pesisir Pulau Semau, Kabupaten Kupang.  (Foto TBN Polda NTT)
Personel Ditpolairud Polda NTT bersama instansi terkait melakukan pemantauan dan penanganan tumpahan minyak yang mencemari pesisir Pulau Semau, Kabupaten Kupang. (Foto TBN Polda NTT)

 

REPORTASENTT.COM, KUPANG-  Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur mempercepat koordinasi lintas instansi menyusul pencemaran laut akibat tumpahan minyak di perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang.

Dugaan awal mengarah pada kebocoran yang terjadi saat proses pengangkatan bangkai KM Kuala Emas, sehingga memicu pencemaran di sejumlah kawasan pesisir.


Tim Ditpolairud Polda NTT langsung melakukan pengumpulan bahan keterangan serta pemantauan lapangan setelah menerima laporan insiden tersebut.


Baca Juga: Polres Ende Gagalkan Dugaan TPPO, 21 Calon Pekerja Diselamatkan sebelum Diberangkatkan ke Kalimantan


Hasil penelusuran menunjukkan dampak pencemaran menjangkau wilayah pesisir Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, hingga Batuinan di Kecamatan Semau.

Investigasi sementara mengungkap insiden bermula pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA ketika proses pemotongan lambung kiri KM Kuala Emas dilakukan di area antara Palka 2 dan Palka 3 menggunakan Crane Barge Hong Bang 6.

Pada tahap itu terjadi kebocoran yang mengeluarkan minyak yang diduga berjenis Marine Fuel Oil (MFO).


Baca Juga: Tuduhan Suanggi Picu Perselisihan Warga di Kupang, Polisi Tempuh Mediasi untuk Redam Konflik

Pihak kontraktor menilai titik kebocoran berada di luar perkiraan teknis karena bagian tersebut diperkirakan merupakan tangki balas yang tidak dilalui jalur bahan bakar.

Berbagai langkah pengendalian segera dijalankan dengan menambah armada penanganan dari dua menjadi empat unit perahu.

Tim gabungan memasang oil boom, menggunakan oil absorbent pads, menyemprotkan oil dispersant, serta menyedot minyak yang terperangkap di sekitar lokasi.

Hingga kini sekitar lima hingga enam ton minyak berhasil diamankan, sementara kegiatan pembersihan dilakukan bersama masyarakat di sejumlah titik pesisir, termasuk Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing.

Baca Juga: Program Upcycle Life Jacket Antar PELNI Raih Penghargaan ESG 2026


Ditpolairud Polda NTT juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Semau, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta instansi terkait lain untuk memastikan penanganan berlangsung optimal.

Penyisiran melalui jalur laut dan darat masih dilakukan guna memantau kemungkinan penyebaran minyak ke kawasan pesisir lainnya, sementara investigasi teknis terhadap sumber kebocoran MFO terus berlangsung.

Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, mengatakan personel segera bergerak melakukan pengecekan dan koordinasi begitu menerima informasi dugaan pencemaran laut.


Baca Juga: Polisi Dalami Dugaan Keterkaitan Geng Motor dalam Kasus Tewasnya Satpam Waduk Jatiluhur Bertangan Terborgol


Halaman:

Editor: Florianus Harson

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X