ekonomi-bisnis

Mengapa Gas Elpiji 3 Kg di Indonesia Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Asal- usulnya

Kamis, 13 Februari 2025 | 23:54 WIB
Gas Elpiji.

Gas Elpiji dan Kapal Udara Zeppelin

Permintaan gas elpiji juga meningkat seiring popularitas kapal udara yang digunakan untuk perjalanan antara Eropa dan Amerika Serikat.

Kapal udara generasi terbaru, seperti Zeppelin, menggunakan mesin berbahan bakar gas Blau—bahan bakar yang sangat mirip dengan butana, salah satu komponen utama gas elpiji.

Menggunakan bahan bakar gas dengan massa hampir sama dengan udara menjadi solusi praktis bagi kapal udara karena tidak mengubah berat keseluruhan pesawat seperti bahan bakar cair.

 Baca Juga: Pendaftaran Anggota Polri 2025 Dibuka! Gratis, Transparan, dan Tanpa KKN, Cek Syaratnya di Sini!

Sayangnya, era Zeppelin berakhir tiba-tiba pada tahun 1937 setelah tragedi meledaknya kapal udara Hindenburg yang menewaskan 36 orang.

Gas Elpiji untuk Memasak

Berbeda dengan kapal udara yang kehilangan popularitasnya, penggunaan gas elpiji justru semakin berkembang, terutama sebagai bahan bakar memasak.

Salah satu pelopor penting dalam sejarah penggunaan gas elpiji untuk memasak adalah Ernesto Igel di Brasil.

Pada saat itu, banyak tabung gas elpiji yang tersisa di lapangan terbang setelah era kapal udara berakhir.

 Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki- laki Naik Status ke Level IV (AWAS), Warga Diminta Waspada

Melihat peluang ini, Ernesto Igel membeli 6.000 tabung gas yang tidak lagi digunakan di Rio de Janeiro dan mulai mempromosikan gas elpiji sebagai bahan bakar memasak yang efisien.

Inovasi ini kemudian melahirkan perusahaan Ultragaz pada tahun 1939.

Saat itu, perusahaan ini memiliki tiga truk distribusi dan melayani 166 pelanggan.

 Baca Juga: Derby Merseyside di Goodison Park: Pertemuan Panas Everton vs Liverpool, Penuh Kontroversi!

Halaman:

Tags

Terkini