Selendang menggunakan tenun bermotif Waibalun dari Larantuka sebagai simbol kreativitas masyarakat setempat, sedangkan sarung atau Nowing bermotif khas Adonara melengkapi penampilan maskot.
Perpaduan ketiga atribut tersebut menjadi simbol persatuan tiga wilayah utama Flores Timur dalam satu kesatuan daerah.
Dalam proses desain, Tarwan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai alat bantu untuk membuat sketsa awal dan pembentukan atribut karakter. Tahap penyempurnaan kemudian dilakukan menggunakan Adobe Photoshop dan Canva sehingga menghasilkan desain final yang sesuai dengan identitas budaya Flores Timur.
"AI hanya saya gunakan untuk membantu proses sketsa awal dan pembentukan atribut agar terlihat realistis. Seluruh penyempurnaan desain dilakukan secara manual menggunakan Photoshop dan Canva," jelas Tarwan.
Ia mengungkapkan sebelum memulai proses desain, dirinya melakukan riset langsung di Pulau Solor, Larantuka, dan Adonara untuk memahami karakter budaya yang akan dituangkan dalam maskot.
Selain itu, ia berdiskusi dengan sejumlah wartawan senior Flores Timur, di antaranya Patman Werang, Wentho Eliando, Eman Niron, Ebed De Rosary, serta Camat Solor Barat Piter Kewuan guna memperoleh masukan mengenai representasi budaya daerah.
Menurut Tarwan, tantangan terbesar dalam merancang maskot adalah menyatukan identitas budaya dari tiga pulau menjadi satu karakter yang mudah dikenali masyarakat.
Ia menegaskan keikutsertaannya dalam sayembara bukan semata mengejar kemenangan, melainkan sebagai bentuk partisipasi untuk mempromosikan budaya Flores Timur.
Tarwan juga meluruskan polemik mengenai gambar maskot yang sempat beredar di media sosial. Ia memastikan desain yang menjadi perbincangan bukan merupakan karya resmi yang dikirimkan kepada panitia lomba.
Baca Juga: Viral Sorotan Asal Peserta Akpol Panda NTT, Polda: Kelulusan Murni Berdasarkan Prestasi
"Maskot yang ramai diperbincangkan di media sosial bukan desain yang saya serahkan kepada panitia. Maskot resmi adalah versi final yang diumumkan panitia dan ditampilkan dalam peluncuran resmi. Saya memiliki seluruh bukti digital proses pembuatannya," tegasnya.
Ia mengapresiasi berbagai tanggapan masyarakat terhadap kehadiran Si Boli. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika kreatif yang dapat menjadi bahan evaluasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Flores Timur dan semua peserta sayembara yang telah berpartisipasi. Dinamika dan berbagai pendapat merupakan hal yang wajar dalam proses kreatif. Semoga Si Boli dapat menjadi kebanggaan kita bersama sebagai identitas budaya Lamaholot," tuturnya.