Persebata Lembata di Ujung Tanduk Liga Nusantara: Bermain dengan Hati, Natal Tanpa Gaji dan Makanan  

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Jumat, 26 Desember 2025 | 16:40 WIB
Ronald Samb, salah satu pemain Persebata Lembata. (Foto @nusaliga)
Ronald Samb, salah satu pemain Persebata Lembata. (Foto @nusaliga)
 


REPORTASENTT.COM- Nasib Persebata Lembata di lanjutan kompetisi Liga Nusantara musim ini tengah diselimuti tanda tanya. Klub kebanggaan masyarakat Kabupaten Lembata itu dikabarkan menghadapi persoalan serius di luar lapangan, mulai dari gaji pemain yang belum dibayarkan hingga keterbatasan konsumsi harian, bahkan pada momen Hari Raya Natal.
 


Informasi tersebut mencuat melalui unggahan akun media sosial @NusaLiga yang menyebutkan bahwa skuad Persebata masih berjuang tanpa kepastian hak dasar mereka.
 
 
 
Kondisi ini kontras dengan performa tim yang dinilai mampu bersaing dengan klub-klub besar di Grup D Liga Nusantara.
 
 
 
 


Di balik semangat juang “Laskar Sembur Paus” yang tampil dengan hati dan determinasi tinggi, tersimpan cerita perjuangan yang disebut-sebut luput dari perhatian manajemen. Situasi tersebut memicu reaksi luas dari suporter dan masyarakat Lembata.


Sebagai bentuk kepedulian, sejumlah fans dan warga bahkan berinisiatif membuka penggalangan dana (open donasi) untuk membantu kebutuhan tim.
 
 
Di sisi lain, tak sedikit warganet yang melayangkan kritik keras terhadap manajemen Persebata Lembata.
 
 


Dalam unggahan akun Facebook Sepakbola Lembata, Elias Kaluli Making, warga Lewuhala yang tinggal di Wangatoa, mengungkapkan keprihatinannya setelah beredarnya sebuah poster di Facebook yang menampilkan foto pemain Persebata dengan keterangan “Natal Tanpa Makanan dan Belum Digaji, Persebata Ancam Mogok Bermain.”
 


“Sekejap hati terenyuh, membayangkan beratnya perjuangan anak-anak Laskar Sembur Paus dalam menjaga nama NTT di level nasional, namun tidak dihargai dengan perhatian yang baik dari induk semang mereka, PT Persebata Taan Tou,” tulis Elias.
 

Ia menegaskan bahwa gaji dan konsumsi harian merupakan hak pemain yang wajib dipenuhi, bukan semata karena momentum Natal. Menurutnya, narasi “Natal Tanpa Makanan dan Belum Digaji” mencerminkan lemahnya tanggung jawab pengelolaan klub.
 
 
 


Elias juga mengingatkan bahwa kondisi Persebata sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda krisis sejak adanya keluhan Direktur PT Persebata terkait menipisnya anggaran operasional tim.
 
 
Ia pun menyoroti sikap pemerintah daerah yang dinilai belum merespons secara konkret.


“Kita sudah mendesak pemerintah untuk menjawab keluhan dengan menambah anggaran. Namun pemerintah terkesan bergeming, hingga muncul ancaman mogok bermain akibat ketiadaan makanan dan gaji pemain yang belum dibayar,” lanjutnya.
 


Nada kritik serupa juga disampaikan akun Facebook Bang Barça. Dalam unggahannya, ia secara tegas meminta kepala daerah Lembata untuk bertanggung jawab atas situasi tersebut.


“Saran saya, Bupati dan Wakil Bupati Lembata berhenti saja dari jabatannya kalau masyarakat harus galang dana untuk Persebata,” tulisnya.


Ia menilai dukungan masyarakat terhadap Persebata sangat besar, namun tidak diimbangi kebijakan pemerintah daerah, khususnya dalam membantu aspek finansial klub. Menurutnya, pemerintah seharusnya memiliki jaringan hingga tingkat provinsi maupun pusat untuk menopang kebutuhan tim.
 
 


“Pangkas saja perjalanan dinas pemerintah atau DPR yang tidak terlalu penting, alihkan dulu untuk Persebata sampai mereka selesai bertanding di Liga 3. Mau lolos ke Liga 2, bertahan, atau degradasi ke Liga 4, itu urusan nanti. Jangan bikin malu orang Lembata,” tulisnya.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari manajemen PT Persebata Taan Tou maupun pemerintah daerah Kabupaten Lembata terkait isu tersebut.
 

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X