REPORTASENTT.COM, BORONG- Warga di sejumlah desa di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di ruang terbuka setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores.
Sejak Minggu (16/8/2026), kerusakan dilaporkan terjadi di hampir seluruh wilayah Kecamatan Elar. Rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai ringan hingga berat. Sejumlah fasilitas umum juga terdampak, sementara beberapa warga mengalami luka akibat tertimpa material bangunan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih tidak kembali ke rumah. Mereka mendirikan tenda darurat di pinggir jalan dan lapangan terbuka karena khawatir bangunan yang rusak runtuh saat terjadi gempa susulan.
Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang Flores, Fransiskan dan JPIC OFM Indonesia Gerakkan Lima Posko Kemanusiaan
Di tengah situasi itu, warga masih memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Persediaan makanan dan air bersih semakin terbatas, sementara kebutuhan tenda, perlengkapan tidur, serta kebutuhan bayi dan anak-anak turut mendesak.
Kondisi diperparah dengan padamnya listrik dan gangguan jaringan komunikasi. Situasi ini menyulitkan warga memperoleh informasi sekaligus memperlambat koordinasi penanganan di wilayah terdampak.
Pemuda asal Kecamatan Elar, Ejhi Serlenso, meminta pemerintah hadir langsung di desa-desa yang terdampak. Menurut dia, penyampaian arahan melalui grup pesan tidak cukup efektif dalam kondisi jaringan komunikasi terganggu.
Baca Juga: Akibat Gempa, Rumah Warga Manggarai Timur Ambruk, Dua Kendaraan Tertimbun Reruntuhan
“Pemerintah harus turun langsung ke pelosok-pelosok desa. Jangan hanya memberi perintah lewat grup pesan. Di sini jaringan tidak ada dan listrik mati. Akibatnya, informasi jadi sangat lambat sampai ke kami,” kata Ejhi.
Warga juga berharap pemerintah, lembaga kemanusiaan, relawan, dan pihak terkait segera mendatangi lokasi untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, terutama bagi keluarga yang rumahnya rusak berat dan tidak lagi layak ditempati.
Hingga Selasa (18/8/2026), warga Kecamatan Elar masih bertahan dengan kemampuan sendiri karena bantuan yang mereka harapkan belum tiba di lokasi.