REPORTASENTT.COM, NAGEKEO- Gempa bumi tektonik dangkal berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Laut Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) pukul 05.58 WITA.
Guncangan tersebut berdampak pada sejumlah kabupaten di Pulau Flores, dengan korban jiwa, luka-luka, kerusakan bangunan, dan ribuan warga yang harus mengungsi.
Data cepat hingga Minggu (16/8/2026) pukul 19.00 WIB mencatat 51 orang meninggal dunia dan 182 orang mengalami luka-luka. Lebih dari 5.000 warga masih berada di lokasi pengungsian akibat dampak gempa.
Baca Juga: Akibat Gempa, Rumah Warga Manggarai Timur Ambruk, Dua Kendaraan Tertimbun Reruntuhan
Korban meninggal dunia tersebar di enam kabupaten. Manggarai mencatat jumlah korban terbanyak dengan 23 orang meninggal dan 119 orang luka-luka. Di Manggarai Timur, 20 orang meninggal dan 24 orang luka-luka.
Sementara itu, Kabupaten Sikka mencatat empat orang meninggal dan 17 orang luka-luka. Di Ende terdapat dua korban meninggal dan 14 orang luka-luka.
Manggarai Barat mencatat satu orang meninggal dan enam orang luka-luka, sedangkan Nagekeo mencatat satu orang meninggal dan dua orang luka-luka.
Baca Juga: Kacab BRI Tinjau KCP Wae Reca yang Ambruk, Layanan Nasabah Dialihkan ke Unit Borong
Kerusakan juga terjadi pada bangunan permukiman dan fasilitas publik. Sebanyak 1.639 rumah warga terdampak, terdiri atas 841 rumah rusak berat, 48 rusak sedang, 174 rusak ringan, serta 576 rumah yang masih dalam proses klasifikasi.
Selain rumah warga, sebanyak 167 fasilitas umum mengalami kerusakan. Rinciannya meliputi 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan.
Situasi tersebut mendorong jaringan Fransiskan memperluas respons kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak. JPIC OFM Indonesia berkoordinasi dengan Provinsi OFM St. Mikhael Indonesia dan jaringan Fransiskan di berbagai daerah untuk mendukung penanganan warga pascagempa.
Lima posko Fransiskan kemudian disiapkan di wilayah terdampak. Pastor Alsis Goa, OFM, menyampaikan hal itu kepada Beritasatu, Senin (17/8/2026).
“Lima posko Fransiskan telah didirikan untuk melayani warga terdampak,” kata Pastor Alsis.
Posko Aeramo di Kabupaten Nagekeo melayani pengungsian, dapur umum, layanan kesehatan, distribusi logistik, serta asesmen kebutuhan warga. Posko Kurubhoko, Karot, Pagal, dan Tentang difokuskan pada distribusi logistik, layanan kesehatan, dan asesmen.
Artikel Terkait
Basarnas: Korban Gempa M7,7 Nagekeo Jadi 90 Orang, Operasi SAR Masih Berlangsung
Gempa M7,7 Guncang NTT, Data Terbaru BNPB Ungkap Puluhan Korban Meninggal dan Ribuan Pengungsi
SAR Hari Kedua Gempa Flores Diperluas, Pencarian Sasar Tiga Kabupaten
Kacab BRI Tinjau KCP Wae Reca yang Ambruk, Layanan Nasabah Dialihkan ke Unit Borong
Akibat Gempa, Rumah Warga Manggarai Timur Ambruk, Dua Kendaraan Tertimbun Reruntuhan