REPORTASENTT.COM, JAKARTA,– Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat setelah dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Pada awal Juni 2026, rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS, menjadi salah satu posisi terlemah dalam sejarah perdagangan mata uang Indonesia.
Data pasar menunjukkan kurs USD/IDR sempat berada di kisaran Rp18.039 pada 4 hingga 5 Juni 2026.
Baca Juga: Ribuan Motor Listrik SPPG Rp1 Triliun Masih Menumpuk di Gudang, Terseret Kasus Korupsi BGN
Pelemahan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal yang berasal dari tingginya suku bunga AS, ketegangan geopolitik, serta keluarnya arus modal asing dari pasar negara berkembang.
Kondisi itu mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, mata uang sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami depresiasi cukup dalam.
Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan terus melakukan berbagai langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen keuangan domestik, serta upaya menarik kembali aliran modal asing ke pasar Indonesia.
Baca Juga: Di Tengah Kasus MBG, Mahfud MD Soroti Pengadaan IT Rp1,2 Triliun yang Pernah Dipertanyakan Publik
Pelemahan rupiah diperkirakan berdampak pada kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya perjalanan luar negeri, dan bertambahnya beban perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS.
Di sisi lain, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan lebih besar dari penerimaan devisa berbasis dolar.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai level Rp18.000 per dolar AS menjadi batas psikologis penting bagi pelaku pasar.
Baca Juga: Buntut Dadan Hindayana Ditangkap, 41 Dapur MBG Milik Putri Wakil Ketua DPRD Sulsel Didorong Diaudit
“Level Rp18.000 merupakan ambang batas psikologis bagi investor. Pelemahan rupiah dipicu tingginya permintaan dolar akibat kenaikan harga minyak dan menyempitnya surplus perdagangan Indonesia,” kata Josua kepada AFP.
Menurut dia, menyusutnya surplus perdagangan membuat pasokan dolar dari aktivitas ekspor semakin berkurang, sementara kebutuhan valuta asing untuk impor energi, bahan baku industri, pembayaran dividen, hingga kewajiban utang luar negeri masih cukup tinggi.
“Pasokan dolar dari perdagangan barang semakin berkurang, sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, bahan baku, dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap signifikan,” ujarnya.