REPORTASENTT.COM, PADANG- Sebuah rekaman kamera pengawas atau CCTV mendadak menjadi perhatian setelah beredar luas di media sosial. Video tersebut diduga memperlihatkan dua orang mengenakan pakaian dinas sedang berada di sebuah ruangan kantor.
Rekaman itu beredar di media sosial sejak Senin, 24 Agustus 2026. Salah satu unggahan yang membagikan video tersebut berasal dari akun Instagram @jejak.politisi pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Dalam rekaman, seorang pria terlihat muncul dari balik pintu dan menghampiri seorang perempuan. Keduanya tampak berada di dalam ruangan sebelum kemudian meninggalkan lokasi.
Baca Juga: Rumah Hancur, Warga Bertahan di Posko Mandiri: 4 Desa di Elar Mengaku Belum Dapat Bantuan
Latar ruangan dalam video turut menjadi sorotan. Terlihat foto Wakil Gubernur Sumatera Barat terpajang di bagian belakang sehingga muncul dugaan peristiwa tersebut berlangsung di lingkungan perkantoran Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Identitas kedua orang dalam rekaman belum dapat dipastikan secara independen. Demikian pula lokasi dan waktu pengambilan video masih dalam penelusuran pihak Pemprov Sumbar.
Sekretaris Daerah Sumatera Barat, Arry Yuswandi, mengatakan pihaknya menerima rekaman tersebut pada Senin, 24 Agustus 2026.
Baca Juga: 954 Ton Bantuan Gempa NTT Disalurkan, BNPB Andalkan Sistem Distribusi Berjenjang
Pemprov Sumbar kemudian melakukan penelusuran dengan mengumpulkan sejumlah informasi dan bukti pendukung.
"Kami belum bisa memastikan lokasinya, kapan kejadiannya, dan siapa pelakunya," kata Arry, Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurut Arry, kebenaran rekaman tersebut masih harus diperiksa secara menyeluruh. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah video benar terjadi di lingkungan Pemprov Sumbar serta mengetahui pihak yang terlibat.
"Apakah itu benar atau tidak, semuanya perlu ditelusuri," katanya.
Di tengah beredarnya video tersebut, Pemprov Sumbar telah memanggil dua pegawai yang diduga memiliki keterkaitan dengan sosok dalam rekaman. Keduanya dimintai keterangan sebagai bagian dari proses pemeriksaan.
Arry juga meminta masyarakat tidak mengambil kesimpulan sebelum proses penelusuran selesai. Ia mengingatkan agar informasi yang belum terverifikasi tidak berkembang menjadi spekulasi.