Sistem distribusi berjenjang itu menggunakan konsep hub-and-spoke dengan tiga tahapan, yakni dari pusat logistik nasional menuju hub regional, dari hub ke posko kabupaten, lalu dari posko kabupaten ke kecamatan, desa, dan pos pengungsian. (BNPB)
Pada Sabtu (22/8), pengiriman bantuan dari Halim Perdanakusuma kembali dilakukan dengan total 147 ton. Sebanyak 70 ton diarahkan ke Labuan Bajo, sedangkan 77 ton dikirim menuju Maumere.
Jika dihitung sejak 15 hingga 22 Agustus 2026, bantuan yang telah dikirim dari pusat logistik nasional mencapai 954 ton.
Baca Juga: Karhutla Mengganas di Kalimantan, Puluhan Hektare Lahan Terbakar dan Titik Api Bermunculan
Dalam periode yang sama, Posduklognas mencatat bantuan masuk sebanyak 1.541 ton dari 72 donatur dengan 68 sorti penerbangan untuk pengiriman pangan dan nonpangan.
BNPB masih menerima dukungan masyarakat dan lembaga melalui bantuan yang sesuai kebutuhan lapangan.
Bantuan nonpangan yang diperlukan antara lain tenda keluarga, terpal, kasur lipat, selimut, matras, genset, pembalut, popok, serta perlengkapan kebersihan dan kebutuhan bayi.
Baca Juga: Helikopter Evakuasi Dua Warga Palue ke Maumere, Lansia Patah Tulang dan Ibu Hamil Siap Bersalin
Untuk kebutuhan pangan, bantuan yang masih diperlukan meliputi sembako, makanan siap saji, air mineral, beras, makanan ringan, dan obat-obatan. Posduklognas tidak menerima pakaian bekas atau layak pakai, susu formula, makanan dengan masa kedaluwarsa kurang dari enam bulan, serta bantuan berupa uang tunai maupun nontunai.
BNPB menyediakan informasi pengelolaan logistik penanganan darurat gempa NTT melalui kanal pemantauan publik yang disiapkan Posduklognas.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan penguatan distribusi bantuan hingga wilayah terdepan.