news

Bupati Nagekeo Ungkap Dampak MBG di Tengah Bencana Gempa kepada Prabowo

Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:15 WIB
Bupati Nagekeo Simplisius Donatus menyampaikan kondisi gempa dan peran MBG kepada Presiden Prabowo dalam rapat penanganan bencana.

 

REPORTASENTT.COM, NAGEKEO,— Bupati Nagekeo Simplisius Donatus menyampaikan kondisi penanganan gempa sekaligus manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat penanganan gempa dan percepatan pemulihan wilayah terdampak di Posko Penanganan Gempa Bumi Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/8/2026).

Di hadapan Presiden Prabowo, Simplisius memaparkan situasi Nagekeo setelah gempa yang menyebabkan 13 orang meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, dan 118 orang luka ringan. Kerusakan juga terjadi pada hampir 9.600 rumah warga.

Kondisi fasilitas publik turut terdampak. Dua rumah sakit di Nagekeo tidak dapat memberikan pelayanan secara normal, sementara dari sembilan puskesmas terdapat lima fasilitas yang tidak berfungsi untuk pelayanan kesehatan maupun administrasi.

 

Baca Juga: Hanura Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Manggarai Timur

 

Sejumlah fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan hingga hampir separuh sekolah tidak dapat beroperasi dengan baik.

"Untuk pelayanan kesehatan saat ini, baik di rumah sakit maupun puskesmas, termasuk sekolah-sekolah, kami mengalami kondisi yang sangat berat," kata Simplisius dalam rapat tersebut.

Ia meminta pemerintah pusat membantu penyediaan tenda bagi sekolah agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung selama fasilitas pendidikan belum sepenuhnya pulih.

Di tengah kondisi darurat tersebut, dukungan dapur MBG turut membantu pemerintah daerah memenuhi kebutuhan makanan bagi warga yang mengungsi. Sebanyak 11 tenaga dari dapur MBG diperbantukan untuk mengoperasikan dapur umum dan menyiapkan makanan siap saji.

 

 

Baca Juga: Mendiktisaintek Tinjau Penanganan Gempa Manggarai, 5.000 Mahasiswa NTT Dibebaskan dari UKT



"Dapur umum yang kami punya dibantu oleh 11 dapur umum untuk penanggulangan bencana dan 11 tenaga dapur MBG. Mereka membantu kami memberikan makanan siap saji bagi masyarakat pengungsi," tutur Simplisius.

Distribusi bantuan makanan ke wilayah yang sulit dijangkau dilakukan dengan melibatkan TNI, Polri, dan relawan. Skema tersebut dipakai untuk memastikan bantuan dapat mencapai masyarakat yang tidak mudah diakses kendaraan umum.

Selain membantu penanganan bencana, Simplisius menyampaikan hasil pemantauannya terhadap pelaksanaan MBG sebelum gempa. Ia menyebut kehadiran siswa di sekolah yang memperoleh program tersebut nyaris mencapai 100 persen.

 

Baca Juga: Rumah Hancur, Warga Bertahan di Posko Mandiri: 4 Desa di Elar Mengaku Belum Dapat Bantuan



"Saya melakukan survei nonformal kepada guru-guru di lokasi yang mendapat jatah MBG. Kehadiran siswa nyaris 100 persen," katanya.

Menurut dia, program tersebut juga dirasakan dalam kondisi kebugaran siswa. Keluhan kesehatan seperti flu dan pilek yang sebelumnya cukup sering terjadi disebut mengalami penurunan pada siswa penerima MBG.

Simplisius juga menyampaikan temuan lain dari pemantauan di masyarakat. Ia mengaitkan program MBG dengan berkurangnya tekanan ekonomi dalam keluarga penerima manfaat, termasuk dalam kasus konflik rumah tangga yang sebelumnya dipicu persoalan kebutuhan uang.

 

Halaman:

Tags

Terkini