REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Rocky Gerung, siapa yang tidak mengenal sosok yang satu ini?
Ia adalah seorang komentator politik, filsuf, akademikus, dan intelektual publik Indonesia.
Nama Rocky Gerung kian menjadi buah bibir sejak ia muncul dengan berbagai pernyataannya yang keras dalam acara dialog, hingga keritikannya menuai polemik dan pro- kontra di masyarakat.
Baca Juga: Pengedar dan Pemakai Narkoba di Bekuk Ditresnarkoba Polda Jatim, Tes Urine Satu Negatif
Dari situ Rocky pun sering dijuluki sebagai Presiden Akal Sehat.
Dari situ Rocky pun sering dijuluki sebagai Presiden Akal Sehat.
Dalam sebuah diskusi bersama pemuda di Desa Sukutokan, Kecamatan Kelubagolit di pulau Adonara, Kamis (28/3/2024), Rocky mengatakan konsitusi sejak awal meminta pemerintah untuk melakukan tugas utamanya yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Jika dibilang digitalisasi, apa yang mau digitalisasi, materi bisa digitalisasi tetapi kecerdasan itu datang dari dinamika, dari dialektika," kata Rocky.
Jadi kata Rocky, hubungan guru dan murid itulah yang pertama- tama menimbulkan kecerdasan, bukan peralatan komputer disitu.
Karena itu Ia beberapa kali mengusulkan ke Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, bahwa anak -anak itu diberikan pengetahuan dasar tentang logika dari awal dan cara berpikir.
"Misalkan saya beri contoh, Kalau saya tanya apakah ada sungai disini, nggak pasti tidak ada sungai di sini. Karena anak- anak merasa diberi keterangan sungai itu adalah air yang mengalir dari gunung ke laut. Padahal semua pohon yang ada di sini di dalamnya ada pembulu kapiler. Sungai adalah apa yang naik ke akar pergi ke ujung daun disinari matahari, diubah menjadi fotosintesis, lalu timbul disitu ada dua hal, satu CO2 dan, kedua bahan makanan, berhenti dalam bentuk klorofil," kata Rocky.
Logika inilah kata dia harus diajarkan kepada anak- anak. Kalau digitalisasi atau dihilirisasi maka menurut Rocky itu sama dengan digitalisasi kedunguan.
Rocky mengatakan, logika dipakai untuk menerangkan hal- hal yang tidak bisa dipikirkan. Cara berpikir itu juga kata dia memungkinkan orang bertengkar.
"Itu yang diajarkan oleh nenek moyang kita untuk memikirkan semua hal," katanya.
Rocky juga menyoroti kurikulum merdeka. Menurut dia, walaupun Kurikulum di Indonesia saat ini disebut kurikulum merdeka tetapi didalamnya itu ada feodalisme.
"Ada dosen yang uda 3 bulan nggak baca jurnal, tiba- tiba datang ke depan kelas, dan memarahi mahasiswanya yang baru 8 jam lalu membaca jurnal fisika, misalnya. Padahal anak- anak ini yang benar, karena ilmu fisika itu berubah setiap 8 jam. Ilmu fisika seperti ilmu sosial, kalau paradigmanya berubah maka ilmu- ilmu tekniknya juga ikut berubah kan," katanya.
Hal inilah sangat penting, karena yang diperlukan kata dia, adalah pendidikan yang mengarahkan orang untuk berfikir kritis.
"Saya pecaya bahwa, biarkan ibu kota negara pindah ke Kalimantan, tetapi ibu kota pikiran ada di Adonara," tutup Rocky dalam dialog bersama tersebut.