REPORTASENTT.COM, ADONARA- Akibat kemarau berkepanjangan dan intensitas hujan sepanjang November 2023 menurun hingga Maret 2024 akibat El Nino, menyebabkan para petani di Desa Helanlangowuyo, Kecamtan Ile Boleng mengalami gagal panen, kekurangan air bersih hingga menurunnya produksi arak yang menjadi mata pencaharian utama di Desa tersebut.
Antonius Reys Holan (52), kepada wartawan di Desa Helanlagowuyo menuturkan, akibat musim kemarau berkepanjangan membuat sebagian warga Desa Helanlangowuyo juga akhirnya memilih untuk merantau.
"Seperti yang teman- teman lihat, hujan pada periode ini tidak stabil, sehingga air nira pohon lontar juga berkurang," kata Antonius.
Baca Juga: Pesawat Hercules TNI AU Sukses Terjunkan Bantuan di Gaza
Ia menambakan, cuah hujan juga sangat mempengaruhi nira yang dihasilkan dari pohon lontar (tuak).
Curah hujan rendah tambah Antonius, menyebabkan gangguan ketersediaan air, dan dapat mengakibatkan tanaman menjadi stress sehingga mempengaruhi proses fisiologi tanaman termasuk produksi nira itu sendiri.
Oleh karna itu kata dia, Petani arak di Helanlangowuyo tidak bisa berbuat apa- apa. Bahan baku tidak ada, seperti ketersediaan air nira (tuak) untuk dijadikan arak semakin berkurang.
Baca Juga: Polisi Masih Dalami Penyebab Kecelakaan di Jalur KM 58 Tol Jakarta- Cikampek
"Karena itu banyak dari masyarakat kami pergi merantau. Kalau kami tetap bertahan dalam kondisi seperti ini tidak bisa. Dampak nya sangat terasa dalam pendidikan anak- anak kami, kehidupan ekonomi keluarga dan aspek lainnya dalam bermasyarakat," ungkapnya.
Pria yang mulai menyadap lontar sejak tahun 1999 ini pun mengakui jika pendapatan ekonomi sebagian masyarakat di Desa itu adalah melalui arak.
Tuak dan arak kata Dia, merupakan minuman beralkohol tradisional. Tuak putih dan arak tambahnya, biasa menjadi simbol ucapan selamat datang, persaudaraan dan adat di Adonara yang sudah menjadi warisan leluhur.
Baca Juga: Didampingi Iriana Jokowi, Presiden Tunaikan Salat Idulfitri 1445 Hijriah di Masjid Istiqlal
Minuman tradisional ini diproses secara tradisional. Proses ini diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang. Tuak putih dan arak yang diolah menjadi minuman beralkohol arak hasil dari sadapan pohon lontar.
"Arak Lamahelan sudah dikenal dimana- mana. Memang untuk memproduksi arak Lamahelan membutuhkan waktu lama. Pembuatan arak biasa dilakukan di kebun dengan menggunakan wadah-wadah tradisional," tuturnya.