REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Tidak seramai kota- kota lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), namun kota ini memiliki aura yang berbeda dan tenang, teduh, namun penuh sejarah.
Larantuka adalah kota tua yang hidup di antara persimpangan peradaban, di mana kebudayaan dan toleransi tumbuh bersisian sejak berabad-abad lalu.
Kota ini menjadi saksi bisu percampuran ragam budaya dari berbagai etnis dan agama.
Menjadi pusat kerajaan Katolik di Indonesia, tradisi Semana Santa, dan peninggalan- peninggalan bangsa Portugal (Portugis) lainnya, Larantuka menyimpan jejak peradaban yang kaya.
Warna-warni kebudayaan ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Pasar-pasar tradisional penuh dengan dialek yang berbaur, aroma rempah-rempah, dan suara alat musik tradisional.
Baca Juga: DPR Rencanakan Pembentukan Badan Baru, Ahmad Syamsurijal: Tampung Aspirasi Rakyat
Di sini, perbedaan bukanlah dinding pemisah, melainkan jembatan yang mempererat persatuan.
Di sudut-sudut kota, seringkali terdengar kisah lama yang diceritakan turun-temurun, tentang bagaimana Larantuka menjadi simbol toleransi dan keharmonisan sejak dahulu.
Kota Larantuka dikenal sebagai kota yang mewakili harmoni budaya dan toleransi antarperadaban.
Kampung Baru dan Lewerang, yang awalnya adalah bagian dari Kelurahan Amagarapati, kini terbagi menjadi kelurahan Ekasapta dan Amagarapati, telah membangun komunitas yang mengutamakan pembauran.
Kehidupan di masyarakat di kota Larantuka kerap disandingkan dengan pembauran kultural antara Adonara dan Larantuka.