REPORTASENTT.COM, ADONARA- Dini hari yang mencekam pada Senin (21/10) lalu, meninggalkan luka mendalam bagi anak-anak Desa Bugalima, Kecamatan Adonara Barat, Kabupten Flores Timur, Provinsi NTT.
Mereka menyaksikan langsung saat rumah-rumah di kampung mereka dilalap api akibat serangan dari Desa Ilepati.
Bukan hanya api yang mengancam, suara dentuman bom rakitan membuat ketakutan semakin melingkupi.
Baca Juga: Pria Asal Timor Leste Diciduk di TTU: Tersandung Kasus Pencurian Sepeda Motor, Apa Motifnya?
Para orang tua berlari menyelamatkan diri, meninggalkan kesan horor dan kekacauan di benak anak-anak yang masih sangat membutuhkan rasa aman untuk bertumbuh.
Trauma akibat peristiwa ini bukan perkara sederhana bagi anak-anak yang emosinya belum stabil dan masih memerlukan bimbingan untuk menghadapi masa depan.
Mereka adalah generasi yang berhak atas pendidikan dan kedamaian, yang kini terancam hilang di tengah ketidakpastian.
Baca Juga: Solidaritas Pasca Konflik: Dapur Lapangan Polda NTT Berbagi Harapan Lewat Makanan Siap Saji untuk Warga Bugalima
Untuk membantu proses pemulihan ini, Anggota Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) hadir memberikan dukungan.
Untuk membantu proses pemulihan ini, Anggota Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) hadir memberikan dukungan.
Tak hanya berupa bantuan fisik, tetapi juga menyediakan ruang aman bagi anak-anak Desa Bugalima untuk mengungkapkan perasaan dan emosinya.
Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol. Ariasandy, S.I.K., menyatakan bahwa dukungan emosional sangat diperlukan dalam kondisi seperti ini, lebih dari sekadar bantuan materi.
“Para anggota Ditsamapta menjadi pendengar yang penuh perhatian dan pembimbing yang lembut, membantu anak-anak merasa terhubung dan didukung dalam proses penyembuhan mereka,” jelasnya.
Melalui kegiatan trauma healing yang dilaksanakan di halaman Kantor Desa Bugalima, Kecamatan Adonara Barat, Jumat (25/10/2024) para anggota Ditsamapta menunjukkan kepedulian mereka dengan membantu memulihkan mental warga yang mengalami tekanan akibat konflik.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada dukungan fisik, tetapi juga menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan dan emosinya.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada dukungan fisik, tetapi juga menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan dan emosinya.
Baca Juga: Kisah Heroik dari Bugalima: Perjuangan Kakek 73 Tahun Selamatkan Buku Pelajaran Cucunya dari Serangan Desa Ilepati
Para anggota Ditsamapta hadir dengan kehangatan dan empati, menciptakan suasana yang mendukung dan menyembuhkan bagi anak-anak yang terdampak, menjadikan momen tersebut sebagai langkah nyata dalam membantu mereka mengatasi trauma.
Para anggota Ditsamapta hadir dengan kehangatan dan empati, menciptakan suasana yang mendukung dan menyembuhkan bagi anak-anak yang terdampak, menjadikan momen tersebut sebagai langkah nyata dalam membantu mereka mengatasi trauma.
Melalui kegiatan ini, Ditsamapta Polda NTT membuktikan bahwa kepolisian tidak hanya berfungsi sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang aktif dalam memajukan kesejahteraan masyarakat.
Dengan penuh empati, mereka menjadi cahaya harapan bagi anak-anak yang memerlukan bimbingan dan perhatian ekstra, membantu mereka melangkah keluar dari bayang-bayang trauma dan meraih masa depan yang lebih cerah.
Dengan penuh empati, mereka menjadi cahaya harapan bagi anak-anak yang memerlukan bimbingan dan perhatian ekstra, membantu mereka melangkah keluar dari bayang-bayang trauma dan meraih masa depan yang lebih cerah.