Mayoritas umat Muslim hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain. Hanya sebagian kecil kelompok fanatik yang memanipulasi ajaran agama untuk kepentingan tertentu. Padahal, ajaran Islam sejati menekankan kasih sayang, perdamaian, dan penghargaan terhadap sesama.
Pada akhirnya, sudah saatnya kita berhenti menilai orang lain berdasarkan agamanya. Toleransi bukan hanya kata manis dalam pidato, tetapi harus menjadi sikap hidup sehari-hari. Jika kita terus menutup diri dan menolak perbedaan, maka Bhinneka Tunggal Ika hanya akan menjadi tulisan tanpa makna. Bangsa ini akan benar-benar menjadi kuat jika seluruh warganya menghayati bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan bagian dari jati diri Indonesia.
Biografi Penulis
Wilhelmina M.A. Nong Lamawitak adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Saat ini ia berada pada semester 5. Tulisan ini disusun sebagai bagian dari tugas mata kuliah Pendidikan Agama Katolik. Melalui opini berjudul “Luka Toleransi di Negeri yang Mengaku Ber-Bhineka”, ia berupaya menyuarakan keprihatinan dan refleksinya mengenai dinamika toleransi di Indonesia serta pentingnya menjaga semangat kebhinekaan dalam kehidupan bermasyarakat.