Oleh; Agus Sudibyo, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat
Teknologi AI ibarat buah simalakama untuk industri media massa. Menolaknya, membuat media massa kian terisolasi di tengah arus deras perubahan. Menerimanya, juga menciptakan kerentanan manipulasi dan eksploitasi yang semakin mengikis eksistensi media massa di hadapan khalayak.
AI Generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Midjourney telah mengubah peta industri konten digital secara radikal. Untuk media massa yang sedang terhuyung-huyung oleh tekanan disrupsi, AI generatif seperti berkah yang turun dari langit. Media massa kini mampu memproduksi teks, gambar, video dalam hitungan menit, dengan tingkat kematangan narasi dan visualisasi yang membutuhkan waktu dan biaya besar jika dikerjakan dengan tenaga manusia.
Namun berkah itu bukan hanya untuk insan media, melainkan untuk semua orang. Tak pelak lagi, ruang digital dibanjiri konten dengan beragam kualitas, dari yang jurnalistik hingga yang sekedar spam atau konten sintetis murni buatan mesin. Lonjakan volume konten mewarnai jagat digital. Persoalannya kemudian, bagaimana nasib monetisasi konten jurnalistik? Menjadi lebih mudahkah? Secara faktual, masyarakat sedang menghadapi limpah ruah informasi. Informasi begitu mudah didapatkan di mana saja, tidak hanya di media massa. Bahkan narasi komprehensif dapat diperoleh dari beberapa prompt di aplikasi AI Generatif. Mendorong khalayak untuk tetap mengakses media massa, jelas menuntut upaya yang jauh lebih keras dan strategis di sini.
Artikel Terkait
Mengerikan! 5.914 Korban Keracunan MBG, Prabowo Siapkan Langkah Darurat
Insiden Keracunan Bayangi Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Tutup Sejumlah Dapur
Dewan Pers Minta Istana Jelaskan Pencabutan ID Card Reporter CNN
Di Balik Seremoni Terima SK P3K, Wabup Flores Timur Lontarkan Peringatan
Kos di Kota Raja Kupang Mendadak Ramai, Temuan Mengejutkan Bikin Warga Kaget