Opini: Luka Toleransi di Negeri yang Mengaku Ber-Bhineka

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Senin, 17 November 2025 | 18:55 WIB
Wilhelmina M.A. Nong Lamawitak / bacround foto by Tim.
Wilhelmina M.A. Nong Lamawitak / bacround foto by Tim.

Oleh : Wilhelmina M.A. Nong Lamawitak 

Mahasiswi: Universitas Katolik Widya Mandira Kupang 

 

Indonesia adalah negara kepulauan dengan beragam suku, agama, dan budaya. Selama ini, kita dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan hidup di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Dengan keberagaman yang begitu besar, idealnya Indonesia mampu menjadi contoh bahwa perbedaan tidak selalu menjadi alasan untuk terpecah, tetapi bisa menjadi kekuatan yang menyatukan.

 

Namun di balik semboyan yang terdengar indah, realitas sosial justru menunjukkan hal yang tidak sejalan. Penolakan terhadap kelompok agama minoritas oleh sebagian kelompok mayoritas masih terus terjadi di berbagai wilayah hingga saat ini. Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai toleransi di negeri majemuk ini belum sepenuhnya tertanam dalam hati masyarakat.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai bentuk penolakan maupun intimidasi terhadap umat agama minoritas masih sering terdengar. Mulai dari penolakan pembangunan rumah ibadah, pembubaran kegiatan ibadah, hingga tekanan terhadap jemaat di sejumlah daerah.

 

Baca Juga: Kasus Pencurian dan Penganiayaan Anak Diserahkan ke Kejari Kupang untuk Tahap II  

 

Kasus seperti Penolakan Gereja di Kelapa Dua Bekasi (1 Desember 2021), Pembubaran Ibadah Natal di Cilebut Bogor (25 Desember 2022), Penolakan Ibadah GKPS di Purwakarta (2 April 2023), atau Penolakan Pembangunan Gereja di Cilodong (5 Juli 2025) hanyalah beberapa contoh yang mencerminkan situasi sebenarnya. Ironisnya, peristiwa semacam ini sering dianggap wajar dan dibenarkan dengan alasan administratif seperti izin yang belum lengkap atau ketidaksesuaian dengan aspirasi warga.

 

Padahal, alasan tersebut seringkali hanya menjadi tameng untuk menutupi sikap eksklusif dan prasangka terhadap kelompok lain. Lalu, di mana letak nilai toleransi yang selalu dibanggakan itu? Apa makna Bhinneka Tunggal Ika jika masih ada warga bangsa yang diperlakukan tidak adil di tanahnya sendiri?

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

OPINI: Ilusi Kesejahteraan Guru

Minggu, 30 November 2025 | 17:43 WIB

Urgensi Pendidikan Agama dalam Membangun Karakter Bangsa

Selasa, 18 November 2025 | 23:11 WIB

Opini: Simalakama AI Untuk Media Massa

Selasa, 30 September 2025 | 07:15 WIB

Opini | Perihal Pungutan Sekolah  Negeri

Rabu, 19 Juni 2024 | 17:23 WIB

Catatan: Menyambut Bulan Suci Ramadan 1445 H

Selasa, 12 Maret 2024 | 00:17 WIB
X