Oleh: Maria Matilda Olang
Ada masa dalam hidup saya, mungkin juga dialami banyak pemudi Kristen lain ketika semuanya terasa begitu cepat. Dunia seolah tidak memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri “Sebenarnya saya ingin ke mana?” Di saat itu, saya belajar bahwa berjalan bersama Tuhan bukan soal selalu tahu arah, tapi tentang berani melangkah meski hati masih ragu.
Hidup sebagai pemudi Kristen kadang terasa seperti meniti jembatan panjang tanpa pagar. Banyak godaan dan gangguan, bahkan pikiran sendiri bisa membuat jatuh. Lelah dan kecewa sering menambah berat langkah, hingga mudah bagi saya untuk tersesat dalam pikiran negatif. Dari situ saya mulai mengenal arti kesetiaan. Kesetiaan bukan keputusan sekali jadi, ia seperti tanaman kecil yang perlu dirawat setiap hari, meski kadang saya malas atau terlalu sibuk. Ada hari ketika bangun saja terasa berat, seolah beban dunia menempel di pundak sejak pagi.
Kadang rasanya ingin menyerah. Doa terasa hambar, membaca firman seperti tidak menembus hati. Namun, di hari-hari seperti itu, saya sering merasakan Tuhan dekat. Tidak keras, tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat saya bertahan. Seperti seseorang yang menepuk pundak pelan dan berkata “Lanjut saja, Aku di sini.”
Baca Juga: Urgensi Pendidikan Agama dalam Membangun Karakter Bangsa
Satu hal yang paling menantang bagi saya sebagai pemudi kristen adalah ketika harus memilih berbeda. Dunia punya caranya sendiri untuk menilai siapa yng layak dihargai. Kadang nilai itu sangat bertentangan dengan apa yang Tuhan mau. Misalnya soal pergaulan, bagaimana memperlakukan orang lain, atau menjaga hati sendiri. Saya pernah dianggap terlalu kaku karena menolak hal-hal yang tidak sehat, pernah dibilang terlalu baik, seolah tidak punya pendirian. Namun, semakin saya berjalan, saya menyadari bahwa identitas saya tidak ditentukan oleh penilaian orang lain.
Yang paling sulit adalah menahan diri dari keinginan membalas. Kadang orang berkata atau bersikap tidak adil. Naluri manusia saya ingin marah, ingin membuktikan bahwa saya tidak lemah. Tapi ada suara kecil dalam hati yang mengingatkan: “Tenang. Tidak semua harus kamu jawab.” Dari situ, saya belajar bahwa kesetiaan kadang berbentuk diam, memilih untuk tidak membalas, dan tetap setia pada hati yang Tuhan inginkan.
Dalam komunitas, saya belajar bahwa hal kecil bisa berarti besar. Ada teman yang membutuhkan saya tanpa mereka sadari. Percakapan singkat, duduk mendengarkan, atau hadir tanpa solusi, ternyata sudah cukup menjadi berkat. Tuhan memakai saya bukan karena saya hebat, tapi karena saya bersedia dan tidak sempurna.
Baca Juga: Peran Tradisi dalam Memperkuat Toleransi dan Moderasi Beragama
Tentu saja, saya sering jatuh. Pernah malas berdoa berminggu-minggu, merasa Tuhan jauh, atau ingin berhenti berusaha. Tapi setiap kali saya mencoba lagi, meski dengan langkah kecil, Tuhan selalu menyambut. Saya percaya, Tuhan tidak menunggu saya sempurna untuk mengasihi saya.
Perjalanan ini masih panjang. Ada hari saya merasa kuat, ada saat saya hampir menyerah. Namun saya percaya, setiap langkah kecil yang saya ambil bersama Tuhan tidak pernah sia-sia. Kesetiaan bukan tentang siapa paling tangguh, tapi tentang siapa yang tetap bertahan meski rapuh berkali-kali. Sebagai pemudi Kristen, saya memilih untuk terus berjalan, pelan pun tidak apa-apa, selama itu bersama Tuhan.
Artikel Terkait
Anggaran Reses Dipangkas MKD, Respons Puan Bikin Publik Bertanya-tanya
Kebijakan Baru Kemendikdasmen Diapresiasi, Tapi DPR Sebut Ada Celah Berbahaya
Opini : Menemukan Tuhan di Era Digital: Tantangan dan Peluang Generasi Z
Peran Tradisi dalam Memperkuat Toleransi dan Moderasi Beragama
Urgensi Pendidikan Agama dalam Membangun Karakter Bangsa