REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Di bawah langit kelabu yang masih dibalut abu vulkanik, sekelompok siswa SMKN 1 Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tampak sibuk menata tomat-tomat merah hasil panen di pinggir jalan Maumere.
Wajah mereka berpeluh, tangan mereka berlumur tanah, tapi mata mereka menyala oleh semangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Tomat-tomat itu bukan hanya hasil kebun biasa. Di balik setiap buah yang mereka letakkan dengan hati-hati, tersimpan kisah perjuangan di tengah bencana, keteguhan di antara keterbatasan.
Baca Juga: Dari Hotel ke Dark Web: Kronik Kejatuhan Eks Kapolres Ngada Hingga Divonis 19 Tahun Penjara
Sudah empat bulan para siswa kelas XII jurusan Perkebunan ini menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di lahan pertanian di Maumere, Kabupaten Sikka.
Saat abu dari Gunung Lewotobi Laki-laki terus mengguyur kampung halaman mereka di Wulanggitang, para siswa ini memilih bertahan, menanam, memanen, dan menjual hasilnya untuk bertahan hidup.
“Mereka belajar dari nol. Mulai dari pembibitan sampai panen. Hasilnya dijual supaya bisa bantu orangtua mereka,” tutur Kepala SMKN 1 Wulanggitang, Yakobus Milan Dawan, Kamis (23/10/2025).
Baca Juga: Kubangan, Jurang, dan Tanjakan Maut: Potret Tragis Jalan Panleleng–Benteng Raja yang Terlupakan
Belajar Mandiri dari Tanah yang Penuh Abu
Milan Dawan, mengatakan kegiatan praktek ini merupakan bagian dari upaya sekolah menanamkan kemandirian sejak dini.
“Ini bukan hanya praktek pertanian. Kami ingin anak-anak belajar nilai kerja keras dan wirausaha agar mereka bisa mandiri setelah lulus nanti,” ujarnya.
Namun, Milan tak menampik masih banyak tantangan. Fasilitas praktik terbatas, alat pertanian modern belum tersedia, dan sebagian kegiatan masih dilakukan dengan peralatan seadanya.
Baca Juga: Prabowo: Uang Negara yang Diselamatkan Kejagung Dapat Hidupi 5 Juta Rakyat
“Kami berusaha menyediakan yang terbaik untuk mereka. Tapi kami juga berharap ada dukungan lebih dari pemerintah dan pihak swasta agar pembelajaran bisa lebih maksimal,” tambahnya.
Erupsi yang Menguji Ketahanan
Sejak awal tahun 2025, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki mengguncang kehidupan ribuan warga di Kecamatan Wulanggitang.