Kampung Teno di Manggarai Barat Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah, 83 KK Masih Bertahan di Pengungsian

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:44 WIB
Warga Kampung Teno, Manggarai Barat, bertahan di pengungsian mandiri setelah gempa merusak rumah dan membuat puluhan keluarga belum kembali.
Warga Kampung Teno, Manggarai Barat, bertahan di pengungsian mandiri setelah gempa merusak rumah dan membuat puluhan keluarga belum kembali.

REPORTASENTT.COM, MANGGARAI BARAT-  Puluhan keluarga di Kampung Teno, Desa Compang Suka, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, masih menjalani hari-hari di lokasi pengungsian mandiri setelah gempa bumi mengguncang Flores.

Warga memilih meninggalkan rumah yang mengalami kerusakan dan mendirikan tempat perlindungan secara mandiri.

Kondisi bangunan yang rusak membuat sebagian keluarga belum berani kembali ke rumah masing-masing.

 

Baca Juga: 954 Ton Bantuan Gempa NTT Disalurkan, BNPB Andalkan Sistem Distribusi Berjenjang

 


Di tengah keterbatasan tersebut, warga mengaku kebutuhan dasar selama berada di pengungsian belum terpenuhi secara layak. Mereka juga masih menunggu perhatian dari pemerintah dan pihak terkait.

Elisabet Merni, salah seorang warga Desa Compang Suka, mengatakan warga terdampak membangun lokasi pengungsian secara mandiri karena bantuan yang diterima belum mencukupi kebutuhan keluarga.

“Kami di sini banyak sekali warga yang terdampak bencana gempa. Kami juga belum mendapatkan bantuan dan sumbangan apa pun,” kata Elisabet kepada media ini, Minggu (23/8/2026).

 

 

Baca Juga: Tersangka TPPO di Sumba Timur Masuk Tahap II, Terancam Hukuman Belasan Tahun Penjara



Menurut Elisabet, kondisi rumah warga menjadi salah satu alasan utama keluarga tetap bertahan di pengungsian. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan berat dan dinilai tidak aman untuk ditempati.

“Kami di sini banyak sekali rumah yang rusak parah dan tidak layak huni. Ada 83 KK yang semuanya berada di pengungsian,” katanya.

Bantuan yang sempat diterima warga juga disebut sangat terbatas. Setiap keluarga, menurut Elisabet, hanya memperoleh sekitar empat gelas beras.

 

Baca Juga: Gugur di Tengah Misi Kemanusiaan, Jenazah Relawan Ahmad Zaki Dievakuasi Tim SAR



“Kemarin hanya ada bantuan empat gelas beras per KK. Itu saja, dan kami tidak tahu bantuan tersebut dari mana,” katanya.

Kondisi itu membuat warga berharap kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar lainnya segera mendapat perhatian. Mereka juga meminta agar wilayah yang berada di kawasan pelosok tersebut tidak luput dari pendataan dan penyaluran bantuan.

“Sejak awal gempa, kami belum sama sekali mendapatkan bantuan dari pemerintah,” kata Elisabet.

 

Halaman:

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X