"Kondisi terkini SMAS PGRI Gelekat Lewo Boru, terlepas dari usaha lembaga untuk membuat suasana KBM kembali berjalan, kami, lebih dari ingin bersuara, mau mengatakan bahwa kami berada di bawah kaki lereng gunung Lewotobi adalah bagian dari Flores Timur, bagian dari Nusa tenggara Timur, bagian dari NKRI," tulis aqun I Te O pada grup facebook suara Flotim.
Ia mengatakan, jika bahasa RUU Pilkada lebih penting, maka biarkan mereka bernafas tanpa status sebagai WNI, bergerak tanpa status sebagai guru, sebagai peserta didik yang notabenenya didengungkan sebagai tongkat estafet bangsa di setiap pidato HUT RI, Sumpah pemuda, hari guru dan hari besar lainnya.
"Jika orang hebat rela datang tengah malam untuk membisikan harapan di telinga akar rumput untuk pemilu, maka apakah orang hebat itu datang lagi, membisikan jawaban untuk duka yang sedang menetes di bumi Wulanggitang," tulisnya.
Ia menambahkan, tidak ada yang lebih subur dari nasib anak-anak bangsa.
Fakta tersebut, menggambarkan betapa beratnya perjuangan hidup di bawah ancaman erupsi Gunung Semeru yang tiada henti.
Banjir lumpur dan hujan lebat menambah penderitaan warga, meninggalkan luka yang dalam di hati mereka.