Bersama anak-anaknya yang tertidur di sisinya, ia berbaring di samping api yang menceritakan kisah lain, kisah tentang kebersamaan mereka yang tersisa meski dunia mereka sudah hancur.
Pagi terus bergulir, dan Nikolaus hanya bisa memandang ke langit, bertanya-tanya kapan semua ini akan berakhir. Ia rela tidur di tanah, di sebelah api yang tak pernah padam, api yang seolah-olah memohon belas kasihan dari langit, namun tak satu pun jawaban datang.
Hanya ada anak-anaknya yang lelap di sebelahnya, mereka yang masih terlalu kecil untuk memahami arti dari kehancuran yang baru saja mereka alami.
Baca Juga: Pimpinan Komisi II DPR RI Resmi Ditetapkan, Rifqinizamy: Kami Akan Tancap Gas
Nikolaus tetap terjaga, hingga akhirnya api pun mulai redup, meninggalkan arang dan abu, seperti kehidupan mereka yang kini tak lebih dari serpihan-serpihan yang tersisa.