news

Inilah Sejarah Aktivitas Vulkanik Gunung Api Anak Ranaka di Manggarai yang Naik Level Waspada

Kamis, 5 Desember 2024 | 16:05 WIB
Inilah puncak gunung anak Ranaka di Kabupaten Manggarai diambil dari udara. (Foto tangkapan layar YouTube Edo Mahat.)

Pada bulan Agustus 1988 volume kubah lava mencapai 18,8 juta m3.

Akibat adanya destabilisasi yang disebabkan gravitasi dan juga dorongan dari gerakan magma dari dalam perut gunungapi tersebut menyebabkan sering terlihat adanya longsoran dan diikuti oleh terbentuknya aliran awan panas yang menuju Wae Reno dan Wae Teko; dipicu oleh adanya hujan pada saat itu, tumpukan material gunungapi telah membentuk aliran lahar, aliran lahar yang terbentuk ini menerjang dan merusak jembatan Wae Teko dan Wae Reno.

Baca Juga: KPU Flores Timur Gelar Pleno Rekapitulasi Pemilu 2024


Karakter Letusan

G. Anak Ranakah merupakan gunungapi aktif termuda di Indonesia, meletus pada tanggal 28 desember 1987, kelahirannya sangat mengagetkan para ahli kegunungapian pada saat itu, karena sebelumnya tidak ada catatan sejarah letusannya.

Periode letusannya belum diketahui, karena letusan pertama yang diketahui hanya pada tahun 1987 dan sampai saat ini belum meletus kembali, sampai saat ini G. Anak Ranakah tidak pernah mengalami peningkatan aktivitas.

Berdasarkan data kegempaan, jarang sekali gempa yang terekam, baik gempa tektonik maupun gempa vulkanik.

Baca Juga: Tingkat Aktivitas Gunung Anak Ranaka di Manggarai Dinaikkan ke Level II (Waspada)

Morfologi

Komplek G. Mandasawu – Ranakah, secara geomorfologi dapat dibagi menjadi satuan morfologi yang berelief halus sampai sedang, sedang sampai kasar, kubah lava dan maar. Kenampakan dari morfologi berelief halus sampai sedang sebagian besar terlihat di sekitar kota Ruteng sampai dengan lereng – lereng di utara G. Golongtede, timur laut G. Tadowolok dan sekitar Lao.

Morfologi sedang sampai kasar mulai terlihat sejak keluar dari kota Ruteng ke arah utara dan timur. Jajaran kubah lava tampak sejak dari puncak Mandasawu – Anak Ranakah terus ke arah barat mencapai Pocok Likang. Sementara itu terdapat pula lebih kurang 16 buah ”maar” yang menempati garis lemah sejak dari Mao- Ranamese sampai ke arah barat melalui Pocok Mansawu – Ranakah. Morfologi dataran hampir tidak nampak, terkecuali jauh ke arah selatan kompleks Mandasawu – Ranakah.

 Baca Juga: Menteri Komdigi Apresiasi Komitmen Investasi Microsoft ke Indonesia


Stratigrafi

G. Anak Ranakah terletak di lereng utara dan merupakan bagian dari rangkaian kubah lava yang berjejer konsentris disekitar kaldera gunungapi purba Pocok Leok, Gunung Anak Ranakah merupakan kubah lava termuda. Batuan komplek G. Ranakah didominasi oleh lava, sebagian kecil awanpanas dan guguran vulkanik, sedangkan Gunung Anak Ranakah berbentuk kubah lava. Sumber magma komplek G. Ranakah adalah dangkal dan batuannya berupa andesit dari seri alkalikapur. Kubah Gunung Anak Ranakah dipermukaannya berupa bongkah-bongkah besar, mempunyai warna abu-abu, pada akhir tahun 1988 terlihat kepulan asap yang sangat lemah keluar dari beberapa bagian kubah.

Berdasarkan hasil analisa umur batuan berdasarkan charcoal radiocarbon dating dari endapan awan panas yang ada di komplek gunung Ranakah diperoleh umur 14.570 +320 tahun.

Umumnya lava-lava komplek Gunung Ranakah telah mengalami ubahan/alterasi dengan derajat ubahan yang bervariasi. Secara petrografis, berdasarkan tekstur dan komposisi mineraloginya, batuan kompleks G. Ranakah dapat dikelompokkan menjadi: Andesit Piroksen batuan ini merupakan batuan G. Ranakah, mempunyai tekstur porfiritik, phenokris terdiri dari plagioklas sekitar (50 persen) mempunyai bentuk prismatik panjang euhedral - anhedral, piroksen (15 persen), mineral berat magnetit berbentuk (5 persen), tertanam pada masa dasar berupa mikrolit plagioklas dan piroksen yang mempunyai bentuk menjarum, mineral berat dan gelas (30 persen).

Halaman:

Tags

Terkini