Tidak hanya itu, teknologi mendorong lahirnya bentuk baru praktik keagamaan. Ibadah online, peringatan hari besar keagamaan virtual, serta doa bersama melalui aplikasi video kini telah menjadi bagian dari dinamika keberagamaan modern. Meski berbeda dari pertemuan tatap muka, cara ini memungkinkan generasi muda tetap terhubung secara spiritual di tengah kesibukan atau keterbatasan jarak. Dunia digital juga memfasilitasi interaksi lintas agama, sehingga mendorong sikap saling memahami dan menghargai perbedaan.
Dengan demikian, menemukan Tuhan di era digital bukanlah sebuah kemustahilan. Yang paling penting adalah kesadaran pribadi dalam menggunakan teknologi secara bijaksana. Generasi Z perlu menyadari bahwa iman tidak akan tumbuh tanpa usaha. Mereka harus berani mengatur waktu, membatasi konsumsi media, dan memberi ruang bagi diri untuk merenung. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan penguasa.
Baca Juga: Anggaran Reses Dipangkas MKD, Respons Puan Bikin Publik Bertanya-tanya
Pada akhirnya, dunia digital dapat menjadi jembatan yang membawa generasi muda semakin dekat kepada Tuhan asal digunakan dengan tujuan yang benar. Dalam kebisingan teknologi, masih ada ruang sunyi bagi setiap orang untuk menemukan makna, kedamaian, dan hubungan spiritual yang lebih mendalam.
Diana Fonsega adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan saat ini duduk pada semester 5. Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu pendidikan dan perkembangan generasi muda, khususnya dalam konteks kehidupan beragama. Tulisan ini disusunnya sebagai bagian dari tugas mata kuliah Pendidikan Agama Katolik, melalui opini berjudul “Menemukan Tuhan di Era Digital: Tantangan dan Peluang Generasi Z.”