Pada HUT ke-80 PGRI, Keteguhan Guru SMKN Wulanggitang Menjaga Api Pendidikan di Tengah Abu Lewotobi

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Selasa, 25 November 2025 | 13:44 WIB
Yakobus Milan Dawan, Kepala SMKN 1 Wulanggitang.
Yakobus Milan Dawan, Kepala SMKN 1 Wulanggitang.

 

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Di lereng Gunung Lewotobi yang masih sesekali mengepulkan abu, para guru SMKN 1 Wulanggitang kembali melangkah di jalan yang sama, jalan yang berdebu, kadang licin oleh hujan lahar, namun tetap mereka tempuh dengan hati yang tak pernah benar-benar menyerah.

Pada momentum HUT ke-80 PGRI, keteguhan itu kembali menjadi cermin tentang apa arti kesetiaan seorang guru, setia bukan karena keadaan memudahkan, tetapi justru karena keadaan menantang.

Kepala SMKN 1 Wulanggitang, Yakobus Milan Dawan, mengenang satu per satu perjalanan para gurunya yang kini tak lagi memiliki gedung sekolah tetap.




Kepada Reportase NTT, Selasa (25/11/2025), suaranya bergetar ketika menceritakan bagaimana para guru itu tetap mengajar meski sekolah telah direlokasi akibat erupsi.

“Komitmen menjalankan tugas guru-guru saya di tengah situasi erupsi sangat tinggi,” ungkapnya.

“Mereka sangat setia dan teguh walau harus menghadapi risiko bahaya yang bisa saja muncul. Terkadang debu mengancam kesehatan mereka, terkadang banjir lahar dingin mengancam nyawa di tengah perjalanan menuju sekolah," tambah Milan Dawan.





Di antara tenda pembelajaran yang berdiri di tanah basah dan buku-buku yang mulai kusam oleh abu, para guru itu tetap menyalakan api kecil yang mereka sebut harapan, harapan agar anak-anak Wulanggitang tidak kehilangan masa depannya.

Dalam narasi perjuangan itu, Yakobus menyimpan kegelisahan yang belum padam.

Baginya, sebagai payung organisasi profesi, PGRI seharusnya hadir lebih dalam, lebih dekat, dan lebih peka terhadap luka-luka pendidikan yang tersisa setelah bencana.




“Selama masa erupsi dan pasca-erupsi, bentuk dukungan masih sangat kurang,” katanya.

“Memang kami pernah mendapat tenda pembelajaran dan bantuan alat tulis siswa. Namun yang saya maksudkan adalah komitmen PGRI menyuarakan ke pemerintah pusat dan daerah untuk membangun kembali sekolah yang rusak berat, agar segera direhabilitasi atau direlokasi," ungkapnya.

Ia menilai bahwa dukungan bagi guru di daerah bencana bukan hanya soal logistik, tetapi juga keberpihakan moral, pengakuan bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia dan tidak terjadi dalam sunyi.




“Semestinya PGRI memberikan apresiasi seperti penghargaan atau reward bagi guru-guru yang bekerja pada daerah bencana alam,” tegas Yakobus.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X