Sebuah bencana alam yang sudah lama lewat bagi media dan berita utama, namun masih menyisakan reruntuhan bagi para guru dan siswa.
Pihak sekolah sudah berulang kali mengajukan permohonan bantuan, berdiskusi dengan pemerintah daerah dan pusat.
Baca Juga: Sidang Kematian Legenda Sepak Bola Maradona, Dokter Fernando Villarejo Ungkap Hal Ini Saat di Persidangan
Tapi hingga kini, tak ada kepastian. Apakah mereka harus direlokasi? Atau gedung lama direnovasi? Bahkan status zona bencana pun masih kabur.
“Kalau sekolah kami masuk zona rawan, relokasi dong. Kalau tidak, renovasi. Tapi kami diam di antara ketidakjelasan itu,” keluh Milan.
Ketidakjelasan yang perlahan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang mematikan semangat.
Sementara itu, di Kupang, 20.000 siswa menari serempak dalam pertunjukan kolosal "NTT Menari".
Baca Juga: Siswa Jabar Keluhkan Kebijakan Jalan Kaki, Gubernur: Jagoan Pantang Minta Bantuan!
Sebuah pemandangan yang mengundang decak kagum dan kamera-kamera media.
Festival Sastra Daerah menggema dalam tiga bahasa, mencatat rekor nasional.
Gebyar SMK dan Pameran Produk SMA menjadi etalase keterampilan dan kreativitas pelajar NTT.
Sertifikat tanah untuk pembangunan SMA Garuda pun diserahkan dengan penuh seremoni.
Baca Juga: Kapolres Adhitya Putra Turun Tangan! Cek Kesiapan Jelang Latihan Pengendalian Massa
Tapi di Wulanggitang, tanah yang sudah ada pun tak bisa dimanfaatkan. Air hujan mengalir di bawah tenda, membasahi harapan yang disulam di tengah abu.
Anak-anak belajar dalam basah, dalam dingin, dan dalam diam yang tak terdengar oleh panggung-panggung resmi.