Sidang Kematian Legenda Sepak Bola Maradona,  Dokter Fernando Villarejo Ungkap Hal Ini Saat di Persidangan

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Kamis, 1 Mei 2025 | 22:39 WIB
Diego Maradona. (foto tangkapan layar instagram@maradona)
Diego Maradona. (foto tangkapan layar instagram@maradona)
 
 
 
 

REPORTASENTT.COM- Dalam persidangan yang sedang berlangsung terkait kematian legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, pada Selasa (29/4), Fernando Villarejo, kepala perawatan intensif di Clínica Olivos, menyatakan bahwa keputusan untuk merawat Maradona di rumah setelah operasi otak adalah pilihan yang sangat tidak tepat.
 
Villarejo mengungkapkan, Maradona "bukanlah pasien yang cocok untuk dirawat di rumah," mengingat kondisi medisnya yang kompleks pasca-operasi.

Maradona, yang meninggal pada 25 November 2020 di usia 60 tahun, hanya beberapa minggu setelah menjalani operasi otak untuk mengatasi pembekuan darah, mengalami pemulihan di rumah pribadi di Tigre, pinggiran Buenos Aires, alih-alih di fasilitas medis yang sesuai.
 
 
 
Diberitakan batimes.com, keputusan tersebut kini menjadi salah satu fokus utama dalam persidangan terhadap tim medis yang merawatnya.

Menurut Villarejo, pemulihan Maradona seharusnya dilakukan di pusat rehabilitasi yang dilengkapi dengan fasilitas medis dan neuropsikiatri, bukan di rumah tanpa pemantauan yang memadai.
 
Ia menjelaskan bahwa Maradona membutuhkan detoksifikasi alkohol yang sangat sulit dilakukan di rumah, dan risiko komplikasi medis sangat tinggi dalam situasi tersebut.
 


"Kami telah memantaunya selama berhari-hari dalam keadaan terbius. Saya tidak percaya dia bisa dibawa keluar dari tempat perawatan," ungkap Villarejo di hadapan pengadilan.
 
"Upaya detoksifikasi di rumah sangat berisiko, apalagi dengan kemungkinan Maradona mengalami episode agitasi psikomotorik yang sulit diantisipasi secara profesional."

Villarejo juga mengungkapkan bahwa tim medis di Clínica Olivos telah merekomendasikan agar Maradona dipindahkan ke fasilitas rehabilitasi.
 
 
Namun, rekomendasi tersebut ditolak oleh dokter utama Maradona, Leopoldo Luque, yang juga disebutkan tidak melakukan penilaian pra-bedah yang memadai sebelum operasi serta tidak memiliki rencana perawatan yang jelas selama pemulihan sang legenda.

Kritik terhadap pengawasan medis semakin tajam setelah Villarejo menyatakan bahwa Luque melarang dokter lain untuk mengevaluasi kondisi Maradona setelah operasi.
 
Keputusan ini dianggap memperburuk kondisi Maradona yang seharusnya mendapatkan perawatan lebih intensif dan komprehensif.
 
Baca Juga: Dukung Gaya Hidup Cerdas, Xiaomi TV A Pro 2026 Siap Hadir di Indonesia Mulai 5 Mei

Tim medis yang terlibat dalam perawatan Maradona, termasuk Luque, psikiater Agustina Cosachov, serta sejumlah perawat lainnya, kini menghadapi dakwaan pembunuhan dengan kemungkinan sengaja.
 
Mereka dituduh melakukan kelalaian medis yang berujung pada kematian Maradona meskipun sudah mengetahui risiko-risiko yang ada.

Persidangan yang dimulai pada 11 Maret 2025 ini diperkirakan akan berlangsung hingga Juli 2025, dengan para terdakwa menghadapi hukuman penjara antara delapan hingga 25 tahun.

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X