Masa Monster di Tanah Terjepit: Dari Gaza Menuju Cetak Biru Perdamaian

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Minggu, 26 Oktober 2025 | 08:21 WIB
Pemandangan tembok pemisah Tepi Barat, yang memisahkan Betlehem dari Yerusalem.
Pemandangan tembok pemisah Tepi Barat, yang memisahkan Betlehem dari Yerusalem.

 




 
 

REPORTASENTT.COM- Sembari mendekam di penjara fasis Benito Mussolini hampir seabad lalu, Antonio Gramsci menulis catatan yang kelak menjadi abadi: interregnum, masa ketika tatanan lama sekarat, sementara tatanan baru belum lahir. Ia menyebutnya sebagai masa monster.
 
 


Delapan puluh tahun kemudian, istilah itu menemukan daging dan darahnya di Gaza, sepetak tanah yang sejak 7 Oktober 2023 menjadi panggung penderitaan, reruntuhan, dan kematian.
 
 
 
Dalam dua tahun terakhir, Gaza menjelma simbol dunia yang kehilangan kompas moralnya: di mana anak-anak menjadi angka, rumah menjadi debu, dan masa depan menjadi wacana tanpa pemilik.
 
 
 
 


Kini, ketika kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, dimediasi Donald Trump, mulai menggeliat, pertanyaan besar menggantung di udara: masa seperti apa yang akan lahir dari reruntuhan ini?
 


Apakah kelanjutan rezim apartheid yang dikemas ulang? Solusi dua negara tanpa kedaulatan sejati? Pendudukan militer yang lebih mengakar, atau bahkan Nakba jilid dua, pengusiran yang lebih metodis dan lebih senyap? Ataukah, justru, sesuatu yang sama sekali baru: sebuah lompatan keluar dari “masa monster” menuju tatanan yang lebih manusiawi?
 



Di Tel Aviv, Los Angeles Times mencatat euforia kecil di Hostages Square. Di tengah kerumunan, Udi Goren, sepupu salah satu korban serangan 7 Oktober, bersuara lirih tapi tajam: “Sekarang saatnya kita, warga Israel dan Palestina – merancang narasi baru bagi diri kita sendiri.”
 
 
 
 


Namun, narasi baru selalu terasa utopis di tanah yang sejarahnya ditulis dengan duka dan dendam. Tapi seperti kata Gramsci, masa transisi selalu penuh monster, dan dari kegelapan itu, perubahan kadang muncul tanpa aba-aba.
 
 


Perubahan itu mungkin sedang berjalan: pergeseran opini publik di Barat, meningkatnya tekanan hukum internasional, hingga solidaritas global untuk Palestina yang tak lagi bisa diabaikan. Dunia, perlahan, mulai menolak normalisasi kekerasan yang terlalu lama dibiarkan.
 



Dari ruang diskusi dan laporan lapangan, dua nama muncul dengan satu gagasan radikal: Michael Schaeffer Omer-Man dan Sarah Leah Whitson. Dalam buku terbaru mereka, From Apartheid to Democracy: A Blueprint for Peace in Israel-Palestine (University of California Press), keduanya menawarkan cetak biru untuk membongkar apartheid yang telah menubuh dalam setiap sendi kehidupan Israel-Palestina.
 
 
 
 


Bukan janji instan. Bukan solusi retoris. Melainkan peta jalan menuju transisi panjang, dari dominasi menuju kesetaraan, dari pendudukan menuju demokrasi sejati.
 


Omer-Man, mantan editor majalah +972, dan Whitson, eks pengacara Human Rights Watch, kini bekerja di Democracy for the Arab World Now, lembaga yang didirikan oleh Jamal Khashoggi, jurnalis yang dibunuh brutal oleh agen Saudi.
 
 
 
Dari warisan darah Khashoggi, keduanya mencoba menulis ulang konsep keadilan di Timur Tengah.
 
 
 
 


Mereka tidak menutup mata: apartheid di Israel bukan sekadar kebijakan pendudukan, melainkan sistem sosial-politik yang menyusup hingga akar kehidupan sehari-hari, dari hukum tanah hingga izin bangunan, dari akses air hingga hak bicara di parlemen.
 
 

“Mengakhiri pendudukan saja tidak cukup untuk menghapus apartheid,” tulis mereka tegas.
 


Cetak biru itu membayangkan berbagai skenario: satu negara demokrasi, konfederasi longgar, atau dua negara yang saling terhubung, asalkan prinsip dasarnya satu: kebebasan bergerak, kesetaraan hukum, dan pengakuan martabat manusia.
 
 
 
 


Omer-Man dan Whitson belajar dari Afrika Selatan dan Irlandia Utara, dua negeri yang pernah terjebak dalam lingkar kekerasan etnis dan segregasi yang tampak tak berujung.
 
 
 
Keduanya kini menjadi bukti bahwa sejarah bisa dibelokkan oleh keberanian membongkar sistem, bukan sekadar menggantinya.


Namun Gaza hari ini belum sampai ke titik itu. Gencatan senjata belum menjadi perdamaian; perdamaian belum berarti keadilan.
 
 
 
 
 
Tapi mungkin, seperti yang ditulis Gramsci, monster yang berkeliaran hari ini adalah tanda bahwa sesuatu sedang sekarat, dan sesuatu yang baru, meski masih samar, sedang berjuang lahir.

Karena setiap tatanan baru selalu dimulai dari reruntuhan.

Dan di antara reruntuhan Gaza, mungkin sedang tumbuh cetak biru masa depan yang akan menulis ulang makna kemanusiaan.


Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X