REPORTASENTT.COM- Fenomena nepo kids, istilah yang merujuk pada anak pejabat dengan gaya hidup glamor, menjadi pemicu krisis politik terbesar di Nepal dalam satu dekade terakhir.
Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli resmi mengundurkan diri pada Selasa, 9 September 2025, setelah tekanan publik meledak menjadi gelombang protes nasional.
Awalnya, istilah nepo kids populer di India untuk menggambarkan anak selebriti yang mudah menembus industri film.
Namun di Nepal, maknanya bergeser: simbol kemewahan anak-anak pejabat yang pamer harta, dari mobil mewah hingga barang bermerek, di tengah mayoritas warga yang sulit mendapatkan pekerjaan.
“Ketimpangan ini sudah terlalu mencolok. Mereka hidup enak karena orang tuanya berkuasa,” kata seorang mahasiswa Kathmandu kepada Al Jazeera, Rabu, 10 September 2025.
Ledakan kemarahan publik terjadi saat video anak pejabat memamerkan pesta mewah viral di media sosial.
Baca Juga: Suara Jalanan Direduksi Statistik, Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang Kontroversi
Tagar #NepoKid pun memuncaki tren di Nepal, menyulut aksi demonstrasi yang berujung bentrokan.
Kerusuhan berlangsung sejak akhir pekan lalu, dengan massa menyerang rumah pejabat, kantor partai, hingga gedung parlemen.
Bandara Internasional Kathmandu sempat menutup penerbangan, dan unjuk rasa di Lalitpur pada Selasa malam diwarnai pembakaran ban serta penyerangan kantor politik.
Korban jiwa pun berjatuhan. Menurut laporan, lebih dari 20 orang tewas, termasuk istri mantan perdana menteri, Radhika Shakya.
Mayoritas korban adalah anak muda yang ikut turun ke jalan.
Tekanan publik kian mengguncang kabinet. Selain Oli, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak dan Menteri Pertanian Ramnath Adhikari ikut mengundurkan diri.
Namun mundurnya para pejabat tidak menyurutkan gelombang demonstrasi.
Pengamat politik Yog Raj Lamichhane menilai fenomena nepo kids hanyalah puncak gunung es.
“Akar masalahnya adalah ketimpangan yang sudah lama dibiarkan. Anak pejabat hidup dari keuntungan politik orang tuanya, sementara rakyat dibiarkan frustasi,” ujarnya.
Hal serupa ditegaskan Dipesh Karki, dosen di Kathmandu University. Menurutnya, sejak masa kerajaan hingga republik, kekuasaan di Nepal tetap terkonsentrasi pada segelintir elite.
“Fenomena nepo kids hanyalah wajah baru dari praktik lama: penangkapan sumber daya oleh elite politik,” katanya.
Artikel Terkait
175 Polisi Kawal Aksi Buruh di Kupang, Kapolresta: Layani dengan Humanis
Kapolres Rote Ndao Naik Mobil Komando, Massa Tetap Tuntut Erasmus Dibebaskan
Tim SAR Gabungan Sisir Sungai, Cari Empat Warga Hilang Korban Banjir Bandang Nagekeo
Suara Jalanan Direduksi Statistik, Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang Kontroversi
Transparansi di Ujung Bibir: RUU Perampasan Aset dan Bayang- bayang Manipulasi Politik