REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Mahasiswa Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) diminta membangun kemampuan berpikir kritis dan menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bertanggung jawab sejak awal memasuki kehidupan kampus.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Ahmad Muhammad Kasim, A. Kep., M. Kes., saat menjadi pemateri dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) IKTL 2026, Jumat (21/8/2026).
Dalam materi bertajuk “Mahasiswa IKTL di Era Digital & AI: Cerdas, Etis, Adaptif, Berdampak”, Ahmad mengajak mahasiswa melihat perkembangan teknologi tidak hanya dari sisi kemudahan memperoleh informasi, tetapi juga dari kemampuan menilai kebenaran informasi.
Baca Juga: Helikopter Evakuasi Dua Warga Palue ke Maumere, Lansia Patah Tulang dan Ibu Hamil Siap Bersalin
Menurut dia, derasnya arus informasi digital menuntut mahasiswa memiliki kemampuan memeriksa fakta, menelusuri referensi, dan membandingkan informasi dengan sumber yang dapat dipercaya.
Ahmad juga mengaitkan perkembangan teknologi dengan makna kemerdekaan di era digital. Menurutnya, kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan kehidupan berbangsa, tetapi juga kemampuan setiap orang mempertahankan kebebasan berpikir di tengah pengaruh teknologi dan algoritma.
Ia memperkenalkan penggunaan AI dengan prinsip “copilot, bukan autopilot”. AI, kata Ahmad, seharusnya membantu mahasiswa menjalankan proses belajar dan menyelesaikan pekerjaan, bukan menggantikan kemampuan berpikir.
Baca Juga: Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Motor di Kupang Berakhir Damai, Pelaku Wajib Bayar Rp4,2 Juta
Mahasiswa tetap perlu memahami persoalan, memeriksa fakta, menguji referensi, serta menyusun keputusan melalui penalaran sendiri. Dalam lingkungan akademik, penggunaan AI juga harus berjalan seiring dengan integritas dan tanggung jawab mahasiswa terhadap setiap karya yang dihasilkan.
Selain kemampuan menggunakan teknologi, mahasiswa IKTL didorong memperkuat keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital dan AI, serta pola pikir berkembang atau growth mindset.
Kemampuan tersebut dinilai penting agar mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi mampu mengubah pengetahuan menjadi gagasan dan solusi yang berguna bagi lingkungan sekitar.
Dalam sesi tersebut, Ahmad kemudian mengarahkan perhatian mahasiswa pada persoalan yang dihadapi masyarakat Flores Timur. Ia mendorong mahasiswa menjadikan teknologi sebagai alat untuk menghasilkan solusi yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Saya tidak ingin kalian hanya menjadi pengguna teknologi. Saya ingin dari kampus ini lahir mahasiswa yang menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan masyarakatnya,” kata Ahmad.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar perjalanan di perguruan tinggi tidak berhenti pada aktivitas perkuliahan dan kelulusan. Kehadiran mahasiswa di kampus perlu menghasilkan proses belajar, karya, serta perubahan yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
Baca Juga: Bantuan Gempa NTT Tembus 646 Ton, TNI AU dan BNPB Percepat Pengiriman ke Flores