REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Anggota Komisi II DPR RI, Aziz Subekti, menegaskan pentingnya peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam memperkuat ekonomi lokal Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hal ini disampaikan saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi II DPR RI ke Kota Kupang, Rabu (27/8).
Aziz menyoroti keberadaan BUMD yang mengelola angkutan perintis.
Baca Juga: Sengketa Lahan Picu Gesekan Warga NTT dengan Aparat Timor Leste, Polri–TNI Bergerak Cepat
Menurutnya, layanan tersebut sangat vital, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Fraksi Partai Gerindra DPR RI meminta Kementerian Perhubungan untuk tidak menghentikan subsidi solar bagi angkutan perintis.
Transportasi ini penting bagi masyarakat dan bisa dikembangkan menjadi peluang bisnis menjanjikan,” ujarnya.
Selain transportasi, Aziz juga menekankan peran Bank NTT dalam mendukung program nasional Pemberian Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Bank daerah ini, kata dia, bisa berperan dalam pembiayaan sarana pendukung, seperti dapur dan peralatan masak.
“Program MBG ini bukan hanya soal sosial, tetapi juga menggerakkan ekonomi lapisan bawah. Anggaran negara sudah tersedia, sehingga risiko kredit hampir nol,” jelasnya.
Aziz juga mendorong Bank NTT menyalurkan pembiayaan bagi koperasi, kelurahan, dan desa melalui skema penyertaan modal negara.
Langkah ini diyakini dapat memperkuat ekonomi lokal tanpa selalu bergantung pada pemerintah pusat.
Lebih jauh, Aziz menyinggung rencana pengembangan kawasan industri dan pentingnya menghidupkan kembali PT Semen Kupang.
Baca Juga: Kabar Gembira! Mendikdasmen Usulkan Tambahan Anggaran Rp14,4 T untuk Insentif Guru Honorer dan PIP
Menurutnya, jika pabrik beroperasi, bukan hanya lapangan kerja tercipta, tetapi harga semen juga bisa lebih murah.
“Kalau pabrik semen jalan lagi, pertumbuhan ekonomi baru akan muncul. Harga semen bisa ditekan, pembangunan jadi lebih murah,” katanya.
Aziz menegaskan pemerintah daerah harus lebih kreatif dan proaktif mengoptimalkan potensi lokal. Ia mengibaratkan kunjungan Komisi II DPR kali ini sebagai upaya “mengetuk sarang semut” agar semua elemen bergerak.
“Daerah jangan hanya menunggu pusat. Kalau kita tidak bergerak, bagaimana pusat mau membantu? Ini waktunya NTT bangun,” pungkasnya.