REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi meluncurkan NTT Mart di Kabupaten Flores Timur, Kamis (5/2/2025). Peluncuran yang berlangsung di Taman Kota Feliz Fernandez, Larantuka, ini diharapkan menjadi etalase pemasaran produk industri kecil menengah (IKM) dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal.
NTT Mart diluncurkan langsung oleh Gubernur NTT Melkiades Laka Lena dan disaksikan oleh Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, para pelaku IKM dan UMKM, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), unsur Forkopimda, Polres Flores Timur, Kodim 1624/Flotim, Pengadilan Negeri, perbankan, serta awak media.
Dalam sambutannya, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen menyampaikan apresiasi atas kehadiran NTT Mart sebagai inovasi yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan produk lokal.
Baca Juga: Tanpa Papan Proyek, Lapen 2025 di Tengku Lawar Manggarai Timur Belum Dikerjakan hingga 2026
“Kami bersyukur karena hari ini NTT Mart hadir di Flores Timur. Ini inovasi yang kelihatannya cukup bertenaga untuk mengungkit UMKM dan IKM di seluruh NTT,” kata Doni Dihen.
Ia menuturkan, Pemerintah Kabupaten Flores Timur sejak awal periode kepemimpinannya telah berupaya mendorong pengembangan UMKM, antara lain dengan mengirim pendamping UMKM mengikuti pelatihan di Bogor serta mengikutsertakan produk lokal dalam pameran di Sarinah, Jakarta.
“Produk-produk kita, seperti tenun ikat dan olahan lainnya, memang masih harus bersaing dengan daerah lain, tetapi sudah mulai menarik perhatian,” ujarnya.
Baca Juga: Mediasi 5 Februari 2026: Yayasan Papa Miskin RS Bukit Lewoleba Akui Skorsing Agustina Ilegal
Menurut Doni Dihen, kehadiran NTT Mart tidak hanya menjadi sarana pemasaran, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM, baik melalui etalase fisik maupun pemasaran berbasis digital.
“Etalase fisik ini diharapkan menjadi pengungkit yang kuat, berjalan seiring dengan pemasaran online yang sudah mulai digencarkan oleh para pelaku UMKM,” katanya.
Ia mengakui, keterbatasan anggaran daerah masih menjadi tantangan dalam pengembangan sektor UMKM.