“Lawan politik bapak itu bukan musuh bapak, apalagi masalah kamu. Kamu harus baik pada semua orang,” ujarnya.
Pesan ini rupanya dijalankan Didit dengan konsisten.
Ia bahkan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menerima undangan dari tokoh-tokoh politik, menunjukkan betapa ia menjaga nilai-nilai tersebut.
Kehadiran banyak figur penting dalam acara ulang tahunnya menjadi bukti bahwa jembatan persahabatan tetap bisa dibangun meski berdiri di atas perbedaan pandangan.
Kini, publik bertanya-tanya, apakah generasi penerus para elite politik ini sedang membuka jalan menuju era baru hubungan antar-keluarga politik di Indonesia, yang lebih hangat, kolaboratif, dan jauh dari aroma permusuhan?
Satu hal pasti, Didit sudah menunjukkan bahwa sejarah tidak harus berulang sebagai perseteruan.