nasional

Indonesia Rawan Bencana, Ketua Komisi V DPR: Mitigasi Tak Bisa Ditunda

Selasa, 2 Desember 2025 | 05:57 WIB
Sebuah titik longsor akibat bencana hidromteorologi di Sumatra Utara. (Foto/Badan Nasional Penanggulangan Bencana)

 

Baca Juga: Drama 10 Gol! Bajak Laut Tundukkan PS Malaka 6-4 dalam Thriller 120 Menit Liga 4 ETMC XXXIV 2025



Ia mengakui bahwa kondisi geografis Indonesia membuat bencana sulit dihindari.

 

Namun dampaknya dapat ditekan melalui edukasi kebencanaan, kewaspadaan, dan sistem peringatan dini yang bekerja optimal.


Lasarus mendorong BMKG dan Basarnas memperkuat koordinasi dengan BNPB, terutama untuk langkah pencegahan di daerah rawan.

 

 

Baca Juga: Kongres PSSI NTT 2025 Digelar di Labuan Bajo, Flores Timur Ditunjuk Tuan Rumah Liga 4 2026



“Penanggulangan ini harusnya bukan hanya setelah terjadi bencana. Teman-teman harus bekerja bagaimana supaya bencana itu tidak terjadi. Ditanggulangi lebih dini,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemetaan kawasan rawan bencana agar masyarakat tidak tinggal di lokasi yang memiliki risiko tinggi.


Data terbaru Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera 2025 mencatat eskalasi signifikan dampak bencana.

 

Baca Juga: Presiden Prabowo Panggil Erick Thohir ke Istana, Ada 3 Instruksi Besar Soal Atlet

 

Hingga Senin (1/12/2025) pukul 16.58 WIB, tercatat 533 orang meninggal dan lebih dari 500 orang masih hilang akibat banjir bandang dan longsor.



Sekitar 2.500 warga terluka dan lebih dari 553 ribu mengungsi. Total dampak bencana tercatat mengenai 1,4 juta penduduk di 48 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.


Kepala BNPP/Basarnas dalam RDP melaporkan bahwa pengerahan personel untuk operasi SAR di Aceh, Sumut, dan Sumbar merupakan yang terbesar dalam dua tahun terakhir.

Halaman:

Tags

Terkini