REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Pemerintah Kabupaten Flores Timur memberikan apresiasi tinggi terhadap karya pelayanan Kongregasi Suster- suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) yang telah mengabdi selama satu abad di Kabupaten Flores Timur (Flotim) khususnya di bidang pendidikan dan kemanusiaan.
Wakil Bupati Flores Timur, Ignas Boli Uran, menyampaikan hal itu usai mengikuti jalan santai dalam rangka menyongsong 100 tahun pelayanan Kongregasi SSpS di Balela, Kelurahan Larantuka, Sabtu (10/5/2025).
"Ini adalah bentuk pengakuan dan terima kasih dari pemerintah Kabupaten Flores Timur atas karya pelayanan luar biasa yang telah diberikan oleh para suster, tidak hanya dalam urusan keagamaan tetapi juga pendidikan dan sosial kemanusiaan," kata Ignas kepada wartawan.
Baca Juga: Ribuan Warga Meriahkan Jalan Santai, Pengobatan Gratis, dan Pameran UMKM Jelang 100 Tahun SSpS Balela- Larantuka
Ignas menyoroti peran biara sebagai perintis pendidikan di Flores Timur.
Salah satunya, SMP Swasta Mater Inviolata Larantuka, yang berdiri sejak 75 tahun lalu di bawah naungan SSpS, serta TKK Laetitia yang juga hampir menyentuh usia serupa.
“Dalam 100 tahun pelayanan SSpS, berdiri SMP Mater Inviolata yang telah mencerdaskan generasi kita sejak 75 tahun lalu. Ini kontribusi nyata yang patut diapresiasi,” ujar Ignas.
Baca Juga: Jejak Pengabdian SSpS di Balela: Sejarah Ketangguhan Misi Sejak 1925 di Larantuka
Menurut Ignas, meski tanggung jawab internal lembaga berada di tangan kongregasi, namun pemerintah daerah memiliki kewajiban moral untuk memberikan dukungan.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Flores Timur berkomitmen membantu pembangunan pendidikan, baik negeri maupun swasta.
“Salah satu bukti konkret dari komitmen itu adalah pembangunan perpustakaan bagi SMP Mater Inviolata yang akan dimulai tahun anggaran 2025. Ini bentuk dukungan kami terhadap perjalanan panjang karya SSpS,” jelasnya.
Baca Juga: Niat Cari Untung, Petani di Labuan Bajo Tersandung 2 Ton Solar Subsidi
Jejak Sejarah Karya Misi SSpS
Karya misi Kongregasi SSpS dimulai pada 25 April 1925, saat lima suster pertama, Wilibrorda Getrud Bouman, Amadea Imants, Serafica Smits, Anamdia Branderhorst, dan Nolana Rahe, meninggalkan Lela menuju Balela.
Perjalanan itu dikenang oleh Suster Helena Fewo, SSpS, dalam acara Coffee Morning menyongsong 100 Tahun SSpS Balela, Jumat (25/4/2025) lalu.
“Mereka berjalan kaki dari Lela ke Balela. Namun berkat hati mulia Don Thomas Ximenes da Silva, Raja Sikka, para suster akhirnya diantar dengan mobil ke Maumere, lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu motor hingga tiba di Teluk Hading Belo Bare-Kawaliwu,” kata Suster Helena.
Artikel Terkait
Niat Cari Untung, Petani di Labuan Bajo Tersandung 2 Ton Solar Subsidi
Hasan Nasbi Ajukan Mundur, Prabowo Menolak: Mensesneg Ungkap Alurnya
Dari Kolekte ke Kemanusiaan: Jejak Umat Katolik di Jantung Dana Vatikan
Jejak Pengabdian SSpS di Balela: Sejarah Ketangguhan Misi Sejak 1925 di Larantuka
Ribuan Warga Meriahkan Jalan Santai, Pengobatan Gratis, dan Pameran UMKM Jelang 100 Tahun SSpS Balela- Larantuka