news

Larangan Study Tour oleh Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tuai Pro dan Kontra

Senin, 4 Agustus 2025 | 20:59 WIB
Kangen Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. (Foto tangkapan layar Instagram Dedi Mulyadi. )

 




 
 
REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuai sorotan publik usai mengeluarkan larangan kegiatan study tour bagi siswa di wilayahnya. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/Kesra tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat Menuju Terwujudnya Gapura Panca Waluya.

Dalam surat edaran itu, salah satu poin utamanya adalah pelarangan kegiatan wisata sekolah yang dikemas dalam bentuk study tour karena dinilai membebani keuangan orang tua siswa.
 
Kebijakan ini mendapat respons beragam dari masyarakat, baik yang mendukung maupun menolak.
 
 
 Baca Juga: Andre Taulany Hadiri Sidang Cerai, Tegas Tolak Libatkan Anak


Pejabat yang akrab disapa KDM ini mengungkapkan latar belakang kebijakan tersebut dalam sebuah video podcast bersama Deddy Corbuzier yang diunggah pada Senin (4/8).
 
Dalam kesempatan itu, KDM membagikan cerita dari salah satu orang tua siswa yang mengeluhkan mahalnya biaya study tour.

“Banyak orang yang hari ini bertemu saya, pasti ceritanya ‘Kenapa ibu kelihatan sangat susah, kenapa sedih ketemu saya,’” tutur KDM.
 
 
 Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi: Polisi Periksa Silfester Matutina, Ini 3 Tuduhan yang Dibahas
 
 

Ia menirukan curhatan salah satu orang tua yang merasa terbebani oleh biaya study tour anaknya.


“‘Anak saya itu harus study tour, ongkosnya Rp2,5 juta terus nanti bekal Rp1,5 juta, total Rp4 juta,’” imbuhnya.

“Gede lho itu,” lanjutnya.
 

KDM juga mengungkapkan bahwa banyak orang tua yang terpaksa meminjam uang dari lembaga informal seperti Bank Emok demi membiayai kegiatan tersebut.
 
 Baca Juga: Eks Presiden Korsel Tolak Diperiksa Jaksa, Pilih Berbaring di Lantai Sel
 
 
“Bank Emok itu adalah bank yang ada di desa, rentenir, terorganisir dengan baik, terkelola dengan baik, tidak (legal) tapi berkeliaran bebas,” jelas KDM.
 

Menurutnya, praktik pinjaman dari lembaga semacam itu bukan hanya membebani masyarakat, tapi juga merugikan negara karena tidak membayar pajak dan menarik bunga tinggi yang disebutnya sebagai bunga tidur.

“Apa sih study tour-nya? Ternyata piknik biasa, mengunjungi tempat wisata,” sindirnya.
 
 
 
 Baca Juga: Konser Juan Reza di Ende, Ramai Penonton, Sepi Kualitas

Sebagai alternatif, KDM mendorong agar sekolah-sekolah di Jawa Barat mengganti kegiatan study tour dengan program-program edukatif berbasis kearifan lokal, seperti pengelolaan sampah mandiri, peternakan, perikanan, pertanian, hingga kewirausahaan.

Kebijakan ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Sebagian mendukung karena dianggap melindungi orang tua dari beban ekonomi, sementara sebagian lain menilai kebijakan ini menghilangkan pengalaman belajar di luar kelas yang bermanfaat bagi siswa.

Tags

Terkini