REPORTASENTT.COM, KUPANG- Cuaca ekstrem masih melanda sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur hingga akhir Januari 2026. Hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi berpotensi terjadi di daratan maupun perairan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer skala luas, termasuk aktivitas siklon tropis di wilayah selatan NTT.
Dampak cuaca buruk dirasakan pada sektor transportasi laut. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Labuan Bajo menutup sementara jalur pelayaran kapal wisata karena tinggi gelombang dinilai berisiko bagi keselamatan.
Baca Juga: Dari Laporan Warga hingga Penangkapan, Polisi Ungkap Dugaan Kejahatan Seksual Anak di Sikka
Di Kabupaten Manggarai Timur, longsor terjadi di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kamis (22/1/2026) sekitar pukul 15.00 WITA.
Di Kabupaten Manggarai Timur, longsor terjadi di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kamis (22/1/2026) sekitar pukul 15.00 WITA.
Material longsor menimbun satu rumah warga dan memaksa sekitar 700 orang mengungsi ke lokasi aman.
Tim SAR bersama Satbrimob Polda NTT masih melakukan pencarian terhadap korban yang dilaporkan tertimbun material longsor.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Ende mencatat 21 kejadian bencana sepanjang Januari 2026, terdiri atas longsor, banjir, dan angin kencang.
Sejumlah rumah rusak serta infrastruktur jalan dan irigasi terputus. Kerugian diperkirakan mendekati Rp 4,9 miliar.
Gempa bumi bermagnitudo 3,1 hingga 3,3 juga mengguncang Borong, Ende, dan Timor Tengah Utara pada 26 Januari 2026. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Baca Juga: Masuk Dewan Perdamaian Gaza Bentukan AS, DPR Ingatkan Jangan Sampai Keadilan Palestina Tersisih
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari.
Pelaksana Tugas Deputi Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menambahkan, pergerakan Bibit Siklon Tropis 97S memicu pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara.
Selain itu, penguatan Monsun Asia, seruakan udara dingin, serta aktivitas Madden Julian Oscillation, Gelombang Rossby Ekuator, dan Kelvin memperkuat pembentukan awan hujan intens di wilayah selatan Indonesia.