Sejarah nama Larantuka bermula dari perhatian terhadap hasil bumi dan keindahan alamnya.
Nama awalnya, Cabo da Flora, diberikan oleh bangsa Portugal yang terpesona dengan keindahan pulau Flores, menggambarkan Flores sebagai pulau bunga bunga yang elok.
"Pulau ini menjadi simbol keindahan dan setiap pemimpin di Flores Timur diharapkan menjaga keindahan tersebut," kata Ahmad Betan, mantan ketua MUI, pada kegiatan diskusi bersama dalam festival Flores Writers, Kamis (10/10/2024), di Taman Kota Felix Fernandez Larantuka.
Keberagaman di Larantuka disambut sebagai kekuatan yang mendorong kemajuan bersama.
Baca Juga: Kisah Gadis 12 Tahun di Jabar, Disekap Selama 7 Hari dan Dipaksa melakukan Hubungan Fisik
Ahamd Bethan pun menyampaikan rasa syukurnya terhadap kerajaan Larantuka.
"Keberagaman budaya di sini sungguh luar biasa. Kami hidup dalam perbedaan, tetapi tetap berdampingan dengan toleransi. Kesadaran akan perbedaan agama membangun kokoh persatuan di tengah keberagaman," ujarnya.
Ahamd tokoh agama Muslim di Kota Larantuka ini juga menekankan pentingnya persatuan dalam perbedaan.
Baca Juga: Pengemudi Ojek Online Dibegal di Kebon Jeruk, 5 Pelaku Tertangkap! Motif Mengejutkan Polisi!
"Kita memiliki iman yang berbeda, tetapi selalu ada kesamaan yang bisa kita ambil. Kita tidak hanya rukun, tapi harus anti kekerasan dan membangun komitmen kebangsaan. Tradisi dan kebersamaan adalah landasan untuk membangun keharmonisan di Larantuka," katanya.
Dirinya menambahkan bahwa Larantuka, yang selalu menjadi jalan tengah dalam menghadapi masalah.
"Kita harus objektif melihat perkembangan, mempertimbangkan kemampuan kita sendiri tanpa terlalu dipengaruhi oleh pihak luar. Proses akulturasi dan pembauran yang terjadi di Larantuka telah menciptakan kedamaian yang patut dijadikan teladan," ujar dia.