REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Penjabat Bupati Flores Timur, Sulastri Rasyid, menepis isu penyalahgunaan logistik yang beredar terkait penanganan pengungsi erupsi Gunung Lewotobi.
Ia menjelaskan bahwa hal yang terjadi bukanlah penyalahgunaan, melainkan pergeseran logistik untuk menyesuaikan kebutuhan pengungsi di berbagai posko.
Hal ini juga ditegaskan oleh Kapolres Flores Timur, AKBP I Nyoman Putra Sandita.
Baca Juga: Pj. Bupati Flotim Ungkap Hal Tak Terduga dalam Apel Awal Tahun 2025!
Dalam keterangannya, Kapolres menjelaskan bahwa pergeseran logistik dilakukan secara bertahap setelah enam posko pengungsian direorganisasi.
“Ketika pengungsi dari kawasan di luar radius rawan bencana 7 km dipulangkan ke rumah masing- masing, ada penyesuaian logistik dari gudang-gudang menuju posko induk. Dari enam posko awal, kini tersisa empat posko pengungsian dengan total 6.590 jiwa,” ujar Kapolres.
Proses pemulangan pengungsi ini, lanjut Kapolres, dilakukan melalui tahapan rapat dengan BNPB RI dan BPBD Flores Timur.
Baca Juga: Kesempatan Emas! Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap 2 Resmi Diperpanjang hingga 15 Januari 2025
Pengungsi yang berada di zona aman dipulangkan bertahap hingga mencakup sekitar 6.000 jiwa.
Adapun pergeseran logistik ini diperlukan untuk mendukung efisiensi distribusi kebutuhan dasar di posko-posko yang masih beroperasi.
“Tim dari BPBD, TNI, dan Polres bersama-sama telah melakukan pergeseran pengungsi dari Posko lle Gerong ke Posko Induk. Langkah ini diambil untuk memusatkan layanan logistik dan pengungsian secara optimal,” tambahnya.
Baca Juga: STY Resmi Dipecat PSSI: Pesan Menyentuh untuk Garuda Jelang Perjuangan ke Piala Dunia 2026
Kapolres juga menyampaikan bahwa penanganan pengungsi di Flores Timur melibatkan berbagai pihak, termasuk BNPB RI yang langsung turun tangan sejak hari kedua erupsi, hingga Wakil Presiden RI yang turut memantau situasi di lapangan.