Baca Juga: Kos di Kota Raja Kupang Mendadak Ramai, Temuan Mengejutkan Bikin Warga Kaget
Pengutamaan Konten Orisinil
Sayangnya, faktor penentunya bukan pada diri media massa sendiri, melainkan pada kebijakan dan keputusan perusahaan platform digital. Semua pihak paham media massa umumnya sangat bergantung —bahkan hingga pada titik yang sangat rentan— pada platform media sosial dan mesin pencari untuk meraih trafik, membangun interaksi sosial, dan mengonversinya menjadi pendapatan iklan. Karena itu, setiap perubahan yang dilakukan platform digital guna beradaptasi dengan ledakan pengaruh teknologi AI juga berdampak langsung pada praktik bermedia massa secara keseluruhan.
Perubahan yang dimaksud misalnya ketika lonjakan volume konten buatan AI memaksa platform besar seperti Google dan Meta memperketat kurasi dan penilaian kualitas konten yang disebarkan melalui platform mesin pencarian dan media sosial yang mereka operasikan.
Google telah menata ulang algoritma pencariannya untuk mengurangi dominasi konten sintetis berkualitas minimal di tampilan hasil pencarian. Google berusaha memisahkan antara konten murni buatan AI dengan konten dengan sentuhan editorial manusia (original content). Dalam kerangka ini, Google menerapkan standar E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) guna memastikan konten dengan nilai informasional tinggi diprioritaskan dalam peringkat hasil pencarian. Experience menuntut pengalaman langsung penulis, Expertise mengharuskan keahlian penulis yang dapat diverifikasi, Authoritativeness menekankan otoritas sumber yang digunakan, dan Trustworthiness mengacu pada tingkat keandalan konten, termasuk akurasi fakta, transparansi sumber, dan integritas penulis atau media massa.