Di saat yang sama, mereka sesungguhnya ingin mengamankan suplai materi berkualitas tinggi untuk melatih model AI yang lebih cerdas. Dengan demikian, kebijakan pengutamaan konten orisinal itu lebih mencerminkan strategi platform digital untuk mempertahankan reputasi dan kendali atas pasar periklanan, sekaligus untuk melakukan dataveillance secara gratis tetapi berkualitas. Dukungan terhadap kepentingan media massa dalam hal ini lebih merupakan efek samping, bukan tujuan utama yang disengajakan.
Baca Juga: Bentrok Pemuda Sumba dan Warga Nelayan di Lasiana, Empat Luka-Luka, Polisi Bertindak Cepat
Ketidakselarasan Insentif
Proses dataveillance itu melahirkan simalakama berikutnya untuk industri media massa. Singkat kata, semua platform digital, termasuk Google dan Meta, sesungguhnya tengah mengembangkan model AI generatif dan AI prediktif mereka sendiri. Untuk itu, mereka membutuhkan data corpus pelatihan model AI yang relevan, berkualitas, dan buatan manusia (bukan mesin). Jika ruang digital dibanjiri konten spam atau konten sintetis buatan AI, data corpus pelatihan model AI terkontaminasi (data poisoning) sehingga model AI yang dihasilkan juga menurun kualitasnya. Dengan kata lain, penerapan sistem E-E-A-T dan prinsip Meaningful, Informative, Accurate sesungguhnya untuk membersihkan pasokan data untuk pipeline pelatihan model AI. Platform digital ibaratnya sedang menjala “nutrisi bergizi gratis” yang membuat produk AI generatif atau prediktif mereka semakin sehat dan cemerlang.
Yang terjadi kemudian adalah ketidakselarasan insentif (incentive misalignment) antara media massa dan platform pengembang model AI. Konten jurnalistik berkualitas menjadi “nutrisi bergizi tinggi” penopang kecerdasan AI, tetapi manfaat ekonomi dari AI tersebut tidak kembali kepada media massa sebagai pembuat konten, alih-alih dikuasai oleh sang pengembang model AI.