Ia mengajak para guru muda untuk membentuk tim inisiator yang akan memetakan potensi, merumuskan visi dan misi, serta menyiapkan program perdana seperti Forum Diskusi Bulanan, Pelatihan Microlearning, dan Guru Muda Menulis.
“Gerakan ini adalah bagian dari proses regenerasi agar PGRI tetap adaptif terhadap perkembangan zaman,” ujarnya.
Denyut Baru dalam Tubuh PGRI Flores Timur
Kegiatan dibuka oleh Muhammad Soleh Kadir, Wakil Ketua PGRI Flores Timur.
Ia menyebut kehadiran Youth Wing sebagai “denyut baru perjuangan PGRI.”
“Guru muda bukan sekadar generasi penerus, melainkan penggerak perubahan yang menyalakan semangat belajar dan berorganisasi dengan cara yang lebih segar,” ujarnya.
Baca Juga: Aksi Diam-diam di Jalan Tikus: Prajurit Kostrad Gagalkan Penyelundupan di Perbatasan RI- Timor Leste
Nama Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Flores Timur, juga mendapat sorotan dari para peserta.
Kepemimpinannya yang tegas dan progresif disebut menjadi katalis kebangkitan organisasi.
“Beliau membuktikan bahwa orang muda bisa sangat berdaya ketika mau memberi diri secara utuh,” kata salah satu peserta.
Baca Juga: Potret Memilukan Pasar Jong Manggarai Timur, Dekat Pustu tapi Tak Terurus
Dalam sambutannya dalam menutup kegiatan tersebut, Maksi menyampaika guru muda adalah wajah baru PGRI Flores Timur energik, visioner, dan berani bermimpi besar.
"Mereka tidak menunggu perubahan, mereka menciptakannya," kata Maksi.
Semangat Baru, Arah Baru
Momentum Sumpah Pemuda kali ini tidak hanya peringatan sejarah.
Ia berubah menjadi peneguhan arah perjuangan baru dalam tubuh PGRI Flores Timur.
Para guru muda tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual organisasi, membawa gagasan segar, keberanian berinovasi, dan semangat kolaborasi lintas generasi.
Baca Juga: Turis 69 Tahun Tewas Jatuh ke Parit di Sekitar Pantheon Roma