pendidikan

Kisah Patrisia, Siswi yang Jadi Cleaning Service Juara 1 di Sekolah, Tunaikan Wasiat Almarhum Ibunya

Jumat, 14 Juni 2024 | 20:34 WIB
Patrisia baca puisi usai sampaikan pidato mewakili siswa kelas 9. (Foto/ Dokumen SMPN 1Adonara Timur)




REPORTASENTT.COM, ADONARA- Kisah inspiratif datang dari seorang siswi SMPN 1 Adonara Timur, Patrisia Ina Seran, yang berhasil meraih juara 1 dalam ujian akhir sekolah.
 
Patrisia, yang sehari-harinya juga bekerja sebagai cleaning service di sekolah tersebut, berhasil menunjukkan bahwa tekad dan kerja keras dapat mengatasi berbagai rintangan.

Sebelum meninggal, ibunya berpesan agar Patrisia tetap bersekolah dan meraih prestasi tinggi.
 
Baca Juga: Tinggal Sepekan Digelar, Intip Persiapan Pantia Kompetisi Liga 1 Askab PSSI Flores Timur 2024
 
Meskipun memiliki tanggung jawab kebersihan, Patrisia berhasil meraih juara 1 dalam kompetisi akademik di sekolahnya.
 
Prestasi ini bukan hanya membanggakan dirinya, tetapi juga menunaikan wasiat almarhum ibunya yang menginginkan Patrisia tetap berprestasi dan tidak putus asa meski menghadapi banyak tantangan.
 
Kisah inspiratif ini menunjukkan dedikasi dan semangat pantang menyerah yang luar biasa dari Patrisia.
 
Baca Juga: Warga Kota Kupang Ini Meminta Oknum Polisi yang Pungli dan Mencoreng Nama Baik Polri Harus Dibina Imannya  
 
Perjuangan dari Patrisia ini pun dibenarkan oleh Muhamad Ratuloli salah satu Guru di Sekolah tersebut.
 
Guru yang biasa disapa Pion Ratuloli ini pun bercerita bagaimana suasana haru menyelimuti acara Penetapan Kelulusan dan Pelepasan Siswa Kelas 9 SMPN 1 Adonara Timur, KabupatenFloresTimur.

Bagaimana tidak, Patrisia, yang didaulat menyampaikan sambutan mewakili siswa yang lulus, terlihat sesegukan berbicara di atas mimbar.
 
Baca Juga: Masih Menjadi Teka- teki Lini Tengah Inggris: Siapa yang Akan Dipilih Southgate di Euro 2024?

Sesekali, siswi kelas 9A ini menghentikan pembicaraannya.

"Ia lantas mengatur napas, seraya mengusap rinai-rinai air mata yang sedari tadi turun membasahi pipinya. Kemudian, ia kembali melanjutkan pidatonya," cerita Pion.

Siswi yang mengenakan toga, samir (kalung wisuda), selendang lulusan terbaik dibalut jas almamater berwarna biru itu, dikatakan Pion tampak berusaha setenang mungkin untuk melanjutkan kalimat-kalimatnya.
 
Baca Juga: Aksi Brutal Kembali Dilakukan OPM, Ciptakan Keresahan di Tengah Masyarakat

"Namun, bulir-bulir air mata yang luruh dari kedua kelopak matanya, gugur tak terkendali," katanya.
 
Beberapa lembar tisu yang disodorkan oleh adik kelasnya dari arah samping, ia gunakan untuk mengusap air mata yang terus saja turun bagai guyuran hujan.

Namun, itu tidak bisa menghentikan suasana hatinya yang semakin nelangsa.
 
Baca Juga: Di Labuan Bajo, Seorang Pengendara Sepeda Motor yang Diduga Mabuk Tabrak Dump Truk

Suasana di bawah tenda itu pun mendadak sunyi dan haru.
 
Beberapa undangan kisah Pion, tampak tertunduk dan ikut menitikkan air mata mendapati situasi itu.

"Saya yang berdiri di bawah pohon ketapang di luar tenda, juga ikut menitikkan air mata," katanya.
 
Baca Juga: Maling Motor, Aksinya Kepergok Pemilik Rumah Hingga Diamankan Warga, Satu Pelaku Kabur

Sebab, kata Pion ada banyak hal yang Ia ketahui tentang kehidupan Patrisia,  tentang sulitnya ia bersekolah.
 
Tentang keinginannya yang kuat untuk bersekolah namun kondisi keluarganya yang tidak memungkinkan.

Sebuah benturan antara harapan dan realitas yang sangat perih.
 
Baca Juga: Kebakaran Rumah Warga Desa Sie, Tim Inafis Satuan Reserse Kriminal Olah TKP

"Namanya Patrisia Ina Seran. Sehari-hari, kami berdua biasa berlomba untuk datang pagi ke sekolah," demikian diungkapkan Pion Ratuloli dalam sebuah postingannya di media sosial.
 
Kadang saya duluan, lebih banyak ia yang duluan bersama Pak Muhammad Fill Lamarobak, guru Mulok di sekolah kami.

Padahal, rumahnya jauh di Purinara yang jaraknya kisaran belasan kilo ke sekolah. Tentu, ia harus menumpang ojek pagi-pagi kalau ada uang di tangan.
 
Baca Juga: Sebanyak 2,24 Kilogram Jamur Ajaib Disita Polisi dalam Penggeledahan Bar di Gili Trawangan

Tapi lebih banyak, ia berjalan kaki dari arah belakang kampung, melewati Wailingo, Waiburak, Waiwerang, Wotan, Tobi Tello, Merdeka, Perintis, hingga tiba di sekolah. Kendatipun begitu, hampir tidak pernah saya dapatkan anak ini terlambat ke sekolah.

“Aduh, Pak saya lebih dulu hari ini, Pak!”

ganggunya ketika saya tiba di sekolah selang beberapa menit setelah ia tiba dan langsung menyalimi tangan saya.
 
Baca Juga: Hendak Diamankan Polisi, Pelaku Penganiayaan di Kota Kupang Membawa Korban ke Rumah Sakit

Jika Anda berkunjung di sekolah kami pagi hari sekali, maka Anda akan mendapati siswi yang sopan, ramah, dan lembut tutur katanya ini, sedang menyapu lantai ruang guru dan tata usaha.

Setelah itu, ia akan mengepel dan menata kembali kursi meja yang ada di setiap ruangan ini.

Usai ini, siswi yang juga merupakan Jurnalis Spensa Adotim TV ini akan membantu para guru untuk mengatur barisan siswa dalam mengikuti upacara apel pagi.
 
Baca Juga: Komisi III Setujui Penambahan Anggaran Polri Sebesar 165 Triliun Sesuai dengan Pagu Indikatif Tahun Anggaran 2025

Sekolah memang sengaja memberi Patrisia kesempatan untuk menjadi siswa yang membantu melakukan kebersihan di sekolah pagi hari.

Konsekuensinya, jika ada tagihan uang sekolah, maka lembaga ini akan membayarkan tagihan itu untuk Patrisia.

Agar, Patrisia hanya fokus belajar, tidak usah cari uang untuk bayar tagihan ini.
 
Baca Juga: Sulit Berantas Pungli di Lapas, Benny K. Harman: Bapak Jadi Menkumham 10 Tahun Kok Pungli Tumbuh Subur?

Di satu sisi, sekolah ingin melatih jiwa peduli, kerja keras, tanggung jawab, dan disiplin kepadanya.
 
Di lain sisi, dirinya mendapatkan keuntungan dapat dibantu sekolah jika ada pembayaran-pembayaran tertentu.

Patrisia memang harus menangis di atas podium.
 
Baca Juga: 52 Motor Diduga Balapan Liar di Bangkalan Diamankan Polisi

Saya memahami itu. Barangkali, ia sedang mengingat-ingat kembali suka dukanya selama menempuh pendidikan di sekolah ini.

Saya teringat akan komitmen yang pernah ia sampaikan kepada saya beberapa waktu lalu saat screning anggota Pramuka.

Saya melakukan Coaching dengan pola TIRTa. Patrisia pun bercerita, tentang kehidupannya seharip-hari di rumah.
 
Baca Juga: Indonesia Fokus pada 10 Laga Krusial di Babak Ketiga, Demi Tiket Piala Dunia 2026

Tentang hidupnya bersama ibunya sendiri karena ayahnya pergi meninggalkan mereka.

Ia juga sering membantu ibunya memetik sayuran dan buah di kebun siang hari.

Lalu bersama ibunya berjualan sayur dan buah itu di Pasar Waiwerang saban sore.
 
Baca Juga: Wakil Ketua Komisi X DPR RI  Sebut Naturalisasi Secara Cermat Telah Tingkatkan Performa Timnas Indonesia  

Dulu, jika Anda melewati Pasar Waiwerang, maka Anda bisa mendapati Patrisia dan Mamanya jualan di pinggir badan jalan raya samping Koramil.

Titik balik kebangkitan Patrisia adalah ketika Ibunya meninggal dunia. Patrisia benar-benar hancur. Betapa tidak, dirinya hanya memiliki ibunya saja di rumah.

Ayahnya tidak tinggal bersama mereka dan sudah pergi ke kampung yang sangat jauh.
 
Baca Juga: Hakim-hakim Inggris Lainnya Didesak untuk Mengundurkan Diri Dari Pengadilan Tinggi Hong Kong  
 
Saudara lelakinya telah merantau ke luar yang hampir tidak pernah mengirimi mereka uang. Patrisia merasa hidupnya sudah putus harapan.

Atas kesepakatan keluarga, Patrisia harus dititipkan tinggal bersama adik perempuan ibunya yang sudah berkeluarga dengan kehidupan yang juga sama memperihatinkan.
 
Patrisa benar-benar terpukul atas peristiwa ini.

Baca Juga: Dua Tersangka Produsen Minyak Goreng Ilegal Ditangkap, Sebulan Raup Untung Ratusan Juta

Di sinilah, Patrisia yang sebelumnya tidak aktif di sekolah, mulai aktif ikut berbagai kegiatan, termasuk Pramuka, Komunitas Literasi, dan ekstrakurikuler lainnya.

“Pak, suatu kali saya punya Emak datang ambil raport. Pulangnya Emak panggil saya tanya. Kenapa saya tidak masuk lima besar? Kenapa prestasi saya turun? Saya sempat berikan alasan-alasan untuk bela diri saat itu. Emak lalu minta saya untuk belajar rajin lagi supaya bisa juara lima besar. Setelah Emak meninggal, saya ingat itu saya sakit hati sekali,” ceritanya kala itu dengan tangisan yang pecah di depan meja guru.

“Kalau gitu, Patrisia harus janji jadi juara 1 di saat kelulusan nanti. Ini sebagai cara Patrisia untuk membalas kebaikan Emak dan buat Emak bahagia di surga sana,” kata saya membangun komitmen bersama Patrisia yang diikuti dengan ucapan komitmen darinya.

Baca Juga: Dugaan Penyelewengan Dana BOS di SMAN 9 Mataram, Polisi Periksa Sejumlah Guru dan Kepala Sekolah

Dan hari ini, ketika melihat Patrisia menangis di atas panggung, saya berucap dalam hati.

“Terima kasih, Nak. Kamu telah menunaikan wasiat ibumu. Walau saat ini engkau sedang menangis di atas mimbar, ibumu sedang tersenyum memandangmu dari surga."
 


(Tulisan ini dibuat oleh: Muhammad Soleh Kadir/ Pion Ratuloli: Guru di SMPN 1 Adonara Timur)

Tags

Terkini