Wahana Antariksa Surya Parker Capai Dekatnya dengan Matahari, Pecahkan Rekor Baru

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Jumat, 27 Desember 2024 | 21:14 WIB
Foto ilustrasi Nasi Angkasa.
Foto ilustrasi Nasi Angkasa.


REPORTASENTT.COM- Pada tanggal 24 Desember, bukan hanya Sinterklas dan rusa kutubnya yang melakukan perjalanan angkasa.
 
NASA mengungkapkan bahwa wahana antariksa surya Parker berhasil menyelesaikan pendekatan terdekatnya dengan matahari, mencatatkan rekor baru sebagai objek buatan manusia yang paling dekat dengan bintang kita.

Wahana yang diluncurkan pada tahun 2018 ini menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk menyelesaikan 21 orbit mengelilingi matahari, dengan terbang lintas Venus yang secara bertahap menggeser lintasannya lebih dekat ke matahari.
 
 
Pada momen terdekatnya, wahana Parker berada pada jarak 3,8 juta mil (sekitar 6 juta kilometer) dari permukaan matahari.
 
Pada jarak tersebut, wahana antariksa tersebut menghadapi suhu ekstrem hingga 982°C (1.800°F) dan radiasi intens.

Dr. Nicola Fox, kepala sains NASA, menyatakan kegembiraannya atas pencapaian ini.
 
 
"Ini memecahkan semua rekor dan ini adalah momen yang membuat kita semua berdecak kagum, ya, kita berhasil," ujarnya.

Wahana Parker, yang berukuran sebesar mobil kecil, dirancang untuk mempelajari atmosfer atas matahari, yang dikenal sebagai korona, dengan membawa empat perangkat instrumen canggih.
 
NASA menjelaskan bahwa wahana ini dilindungi oleh perisai komposit karbon berukuran 4,5 inci (11,43 cm), yang memungkinkan wahana bertahan pada suhu ekstrem hingga 1.377°C (2.500°F).
 
Baca Juga: Tujuh Motor Ditilang di Kupang, RX KING Dominasi, Sidang Digelar Februari 2025

Pada tahun 2021, wahana ini pertama kali "menyentuh" matahari dan menghasilkan wawasan baru tentang wilayah dengan intensitas magnet yang tinggi.
 
Namun, pencapaian terbaru ini membawa wahana Parker lebih dekat dari sebelumnya, membuka peluang untuk pengamatan yang lebih mendalam.

Pengukuran yang dilakukan oleh wahana ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang bagaimana materi di wilayah ini memanas hingga jutaan derajat, serta bagaimana angin matahari terbentuk dan bagaimana partikel- partikel berenergi dipercepat hingga mendekati kecepatan cahaya.
 
Baca Juga: Pemerintah Dorong Kolaborasi Antarumat Beragama Lewat Natal Nasional 2024

Studi tentang angin matahari juga memiliki implikasi signifikan bagi kehidupan di Bumi.
 
Meskipun biasanya dibelokkan oleh medan magnet Bumi, partikel-partikel angin matahari dapat berinteraksi dengan atmosfer Bumi, menghasilkan fenomena seperti cahaya utara dan selatan.
 
Namun, pelepasan partikel dalam jumlah besar dari matahari dapat mengganggu medan magnet Bumi, merusak jaringan listrik, serta sistem komunikasi.
 

Karena kecepatan wahana Parker yang mencapai 430.000 mph (692.000 km/jam), ilmuwan tidak dapat berkomunikasi dengan wahana selama pendekatan terdekatnya.
 
Namun, sinyal dari wahana diterima oleh para ilmuwan di Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins di Maryland, AS, tepat sebelum tengah malam EST pada Boxing Day, menunjukkan bahwa wahana dalam kondisi baik dan beroperasi normal.
 
Data lebih rinci mengenai status wahana diperkirakan akan dikirimkan pada Hari Tahun Baru.
 
Baca Juga: Dari Pengungsi Vietnam ke Tradisi Natal: Perubahan Budaya dalam Keluarga Yvonne di Australia

Wahana Parker diperkirakan akan menyelesaikan 24 orbit matahari selama tujuh tahun misi ini.
 
Wahana tersebut dinamai untuk menghormati Dr. Eugene N. Parker, yang pertama kali mengajukan teori angin matahari.

Dr. Julia Stawarz, seorang ilmuwan dari Universitas Northumbria, menggambarkan pencapaian ini sebagai tonggak penting dalam penelitian antariksa.
 
 
“Pengukuran dari wahana antariksa surya Parker akan membantu kita menjawab beberapa pertanyaan paling mendasar tentang bagaimana matahari dan atmosfernya berperilaku, yang telah kita coba pahami sejak awal era antariksa,” katanya.

Dengan pencapaian terbaru ini, wahana Parker terus mengukir sejarah baru dalam eksplorasi ruang angkasa, membawa kita lebih dekat untuk memahami misteri matahari dan dampaknya terhadap Bumi.

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X