Panggilan Brent Gordon, SJ: Kisah Perjalanan Menjadi Bruder Jesuit

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Kamis, 26 Desember 2024 | 23:20 WIB
Brent Gordon, SJ. (Foto website jesuits Global)
Brent Gordon, SJ. (Foto website jesuits Global)

 

REPORTASENTT.COM- Bruder Brent Gordon, SJ, mungkin bukan sosok yang dibesarkan dalam tradisi Katolik, tetapi panggilan hidupnya membawa kisah unik tentang perjalanan menuju Tuhan. Brent dibaptis sebagai seorang Katolik pada usia 22 tahun, jauh setelah dirinya menyelesaikan gelar sarjana di bidang Klasik dan Agama. Ketertarikannya pada agama dan cerita membuatnya mendalami sejarah agama dalam studi pascasarjana.

Namun, di balik pencapaian akademis itu, ada kekosongan yang dirasakan Brent.
 
“Saya terpesona oleh konsep agama dan ekspresi iman, tetapi hanya memperlakukannya secara akademis, jauh dari kehidupan pribadi saya,” kenangnya.
 
Baca Juga: Pemerintah Dorong Kolaborasi Antarumat Beragama Lewat Natal Nasional 2024

Ketika pendekatan akademis tidak lagi memuaskan, pencariannya membawanya ke Gereja Katolik.
 
Bergabung dengan Gereja pada saat itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya, meskipun ia sendiri belum menyadarinya.

"Saya tidak memiliki pemikiran nyata tentang pelayanan ketika bergabung dengan Gereja," katanya.
 
 
Namun, hanya beberapa bulan setelah menjadi seorang Katolik, Brent mulai merasa panggilan untuk menjalani hidup pelayanan.


Dari Seminari Hingga Serikat Yesus

Dengan sedikit pengetahuan tentang kehidupan religius, Brent memutuskan untuk masuk seminari sebagai calon imam diosesan. Ia menghabiskan tiga tahun di sana, tetapi merasa ada sesuatu yang kurang.
 
"Saya mulai tertarik pada kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, serta kehidupan komunitas," ungkapnya.
 
Ketertarikan ini akhirnya mendorongnya untuk mempertimbangkan bergabung dengan Serikat Yesus (Jesuit).
 
Baca Juga: Oposisi Korea Selatan Ajukan Mosi Pemakzulan terhadap Penjabat Presiden Han Duck-soo, Krisis Politik Semakin Memanas

Setelah satu tahun mengajar agama di sekolah paroki dan merenungkan keputusan tersebut, Brent akhirnya mendaftar ke Serikat Yesus.
 
Namun, ia menghadapi dilema saat harus menentukan apakah ingin menjadi imam atau Bruder.
 
“Saya merasa tidak nyaman menandai 'imam,' jadi saya memilih kategori 'biasa saja,'” katanya.
 
Baca Juga: Trump Nominasi Kevin Cabrera Jadi Duta Besar Panama, Apa Dampaknya pada Terusan Panama?

Dalam masa novisiat, doa dan refleksi mendalam membawa Brent pada keputusan yang mengejutkan dirinya sendiri.
 
Setelah percakapan dengan Socius novisiat, yang menantangnya untuk merenungkan panggilannya lebih dalam, Brent menyadari bahwa ia dipanggil menjadi seorang Bruder Jesuit.


Menemukan Makna Panggilan

Sebagai seorang Bruder, Brent menjelajahi beragam peran: guru, pembimbing rohani, mahasiswa doktoral, bahkan editor publikasi Jesuit.
 
Namun, ia menegaskan, panggilannya bukanlah tentang pekerjaan tertentu.

“Bukan pekerjaan yang menjadikan seseorang Bruder Jesuit, melainkan kaul dan hubungan dengan Tuhan,” tegasnya.
 
 
Baginya, menjadi Bruder Jesuit berarti hadir dalam setiap ruang dan mendampingi orang lain dalam misi mereka.

Kini, Brent menjalani panggilannya dengan penuh keyakinan dan rasa syukur.
 
“Menjadi seorang Bruder Jesuit adalah tentang perhatian, melihat Tuhan bekerja dalam setiap ruang dan orang yang saya temui,” tutupnya.

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X