Teknologi digital hanya menjadi medium untuk memperkuat penyampaian cerita, sementara ruh utamanya tetap bersumber dari kisah-kisah yang hidup di tengah masyarakat.
“Teknologi hanya membantu proses visualisasi. Inti ceritanya tetap berasal dari sejarah dan cerita yang diwariskan oleh orang-orang tua di kampung,” ujarnya.
Baca Juga: KSOP Labuan Bajo Tindak Kapal yang Bawa Rombongan Artis ke Pulau Padar Saat Larangan Pelayaran
Melalui narasi sinematis, film tersebut membawa penonton menelusuri jejak perjuangan para leluhur. Dalam salah satu bagian, tergambar suasana ketika tanah, laut, dan alam seolah menjadi saksi sekaligus bagian dari perlawanan masyarakat terhadap penjajah.
"Mereka datang bukan untuk berdagang. Mereka datang untuk menguasai tanah (penjajah). Di tanah ini, Aarakian Tubeye, Ola Boli, dan Sili Kabi berdiri menegakkan keadilan. Dewa Langit, jagalah tanah ini. Berikan kekuatan kepada mereka yang berjuang demi keadilan."
Narasi itu kemudian mengalir seperti syair yang memanggil ingatan lama, ketika kabut, laut, dan tanah dipercaya turut menjaga kampung dari ancaman yang datang dari seberang.
Baca Juga: Polisi Klarifikasi Isu Penanganan Lambat, Berkas Dugaan Pencabulan Anak Diserahkan ke Kejaksaan
Selain aktif berkarya di bidang seni dan musik, Eros juga dikenal sebagai pelaku usaha desain dan mebel melalui Mano Engineering Studio Desain dan Mebeler.
Namun di balik aktivitas profesionalnya, ia menyimpan kegelisahan yang sama dengan banyak anak muda daerah: bagaimana memastikan sejarah kampung halaman tidak berhenti pada cerita yang hanya didengar, tetapi juga dapat dilihat, dirasakan, dan diwariskan.
Ia berharap film tersebut menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal asal-usulnya, menghormati para leluhur, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas dan sejarah lokal.
Menjelang HUT ke-81 RI, karya Eros menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari peristiwa-peristiwa besar yang tercatat dalam buku sejarah.
Di pelosok-pelosok negeri, dari kampung-kampung kecil yang jauh dari pusat kekuasaan, terdapat kisah perjuangan yang turut menyumbang nyala api kemerdekaan.
Dan di Helanlangowuyo, nyala itu kembali hidup—melalui layar, melalui cerita, dan melalui ingatan yang tak ingin dibiarkan padam.
Artikel Terkait
Jalan Baru Selesai Sudah Rusak, BEMNus Minta Kejati NTT Selidiki Proyek Rp15,6 Miliar di Manggarai Timur
Ditinggal Ayah, Kehilangan Ibu Sejak Bayi, Cinta Bertahan Bersama Nenek di Gubuk Bocor Manggarai Timur
Sekda Manggarai Timur Tanggung Biaya Pendidikan Bocah Yatim Piatu Berprestasi dari Rumah Nyaris Roboh
Golkar Gandeng Bank NTT, 120 Pelaku UMKM Manggarai Timur Ikuti Sosialisasi KUR
Nelayan Hilang Saat Menyuluh Ikan di Perairan Sikka Ditemukan Meninggal pada Hari Kedua Pencarian