Sejumlah kalangan konservatif bahkan menilai Paus Fransiskus telah membawa Gereja Katolik ke jalur yang "yang membingungkan".
Namun hingga akhir hayatnya, Paus Fransiskus tetap setia di jalan yang ia yakini.
Dalam keputusan yang mencerminkan kesederhanaannya, ia menolak dimakamkan di Basilika Santo Petrus seperti para pendahulunya.
Baca Juga: Hari Kartini, Ny. Dhana Ngurah Joni Jadi Sosok Kartini Masa Kini di Ende
Sebaliknya, ia memilih Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, gereja yang sangat ia cintai dan sering ia kunjungi selama hidupnya.
Selain itu, Paus Fransiskus juga menolak tradisi Pemakaman Vatikan yang biasanya menggunakan tiga peti mati berlapis kayu, timah, dan kayu ek.
Ia hanya menginginkan satu peti kayu seng berlapis sederhana, sebuah keputusan yang mencerminkan jati dirinya sebagai "pelayan bagi yang lemah" hingga napas terakhir.
Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki- laki Erupsi, Kolom Abu setinggi 2.784 Mdpl
Basilika Santa Maria Maggiore sendiri merupakan salah satu dari empat basilika utama di Roma dan dikenal sebagai gereja yang menyimpan relik palungan tempat Yesus dibaringkan di Betlehem.
Di sini, Paus Fransiskus memilih beristirahat dalam damai.
Selamat jalan, Paus Fransiskus. Warisan kasihmu akan terus hidup dalam hati umat manusia.