REPORTASENTT.COM- Pemerintahan Presiden Donald Trump telah membuka penyelidikan baru terkait tuduhan antisemitisme di lima universitas terkemuka di Amerika Serikat, termasuk Columbia University dan University of California, Berkeley. Penyelidikan ini diumumkan oleh Departemen Pendidikan AS pada Senin, 3 Februari 2025.
Penyelidikan ini dimulai setelah perintah yang ditandatangani minggu lalu oleh Trump yang menginstruksikan langkah-langkah agresif untuk memerangi ‘bias anti-Yahudi’ di kampus-kampus AS.
Salah satu tindakan yang disebutkan adalah deportasi mahasiswa asing yang terlibat dalam protes-protes pro-Palestina.
Baca Juga: Kisah Cinta Barbie Hsu dan DJ Koo Berakhir di Ujung Maut, 5 Hari Sebelum Anniversary ke-3
Selain Columbia dan Berkeley, universitas-universitas yang kini juga menjadi sasaran penyelidikan adalah University of Minnesota, Northwestern University, dan Portland State University.
Penyelidikan ini dibuka dengan menggunakan kewenangan Departemen Pendidikan untuk melakukan tinjauan terhadap hak-hak sipil, yang kali ini tidak bersumber dari pengaduan masyarakat seperti biasanya, melainkan inisiatif departemen itu sendiri.
Penyelidikan ini dibuka dengan menggunakan kewenangan Departemen Pendidikan untuk melakukan tinjauan terhadap hak-hak sipil, yang kali ini tidak bersumber dari pengaduan masyarakat seperti biasanya, melainkan inisiatif departemen itu sendiri.
Menurut Craig Trainor, penjabat asisten sekretaris Departemen Pendidikan untuk hak-hak sipil, tindakan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk melindungi kesejahteraan mahasiswa Yahudi di kampus-kampus AS.
Baca Juga: Ketua MPR Ungkap Catatan Perbaikan Program MBG dari Presiden Prabowo, Salah Satunya Menyinggung Porsi Makanan
"Dengan ini, kami ingin memberi tahu universitas, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah K-12 di seluruh negeri bahwa pemerintahan ini tidak akan mentolerir ketidakpedulian institusional terhadap kesejahteraan mahasiswa Yahudi," kata Trainor dalam sebuah pernyataan.
Meskipun demikian, Departemen Pendidikan tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait proses penyelidikan atau kriteria pemilihan universitas yang diselidiki.
"Dengan ini, kami ingin memberi tahu universitas, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah K-12 di seluruh negeri bahwa pemerintahan ini tidak akan mentolerir ketidakpedulian institusional terhadap kesejahteraan mahasiswa Yahudi," kata Trainor dalam sebuah pernyataan.
Meskipun demikian, Departemen Pendidikan tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait proses penyelidikan atau kriteria pemilihan universitas yang diselidiki.
Sebelumnya, presiden universitas seperti yang ada di Columbia dan Northwestern pernah dipanggil untuk memberikan kesaksian di Capitol Hill terkait protes yang terjadi menyusul serangan udara Israel di Gaza.
Baca Juga: Rumor Perceraian Pangeran Harry dan Meghan Markle Mencuat, Keduanya Digosipkan Tinggal Terpisah
Sidang yang diwarnai ketegangan tersebut berujung pada pengunduran diri beberapa presiden universitas, termasuk Minouche Shafik dari Columbia.