Delapan Tahun Menahan Rindu, Sopir Taksi Asal Flores Dibantu Dedi Mulyadi Pulang Kampung

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Senin, 5 Januari 2026 | 23:12 WIB
Matius, sopir taksi asal Flores, berbincang dengan Dedi Mulyadi di Denpasar, Bali, menceritakan perjuangan hidup dan kerinduan pulang kampung setelah delapan tahun merantau. (Foto tangkapan layar Youtube.)
Matius, sopir taksi asal Flores, berbincang dengan Dedi Mulyadi di Denpasar, Bali, menceritakan perjuangan hidup dan kerinduan pulang kampung setelah delapan tahun merantau. (Foto tangkapan layar Youtube.)
 
 

REPORTASENTT.COM, BALI- Kisah haru ini bermula dari pertemuan Matius dengan Dedi Mulyadi di Denpasar, Bali. Dalam perbincangan santai, Matius menceritakan perjalanan panjang hidupnya sebagai perantau yang telah puluhan tahun bekerja sebagai sopir taksi demi menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.


Cerita Matius tersebut diunggah dalam kanal YouTube Dedi Mulyadi dengan judul “8 TAHUN TAK PULANG KAMPUNG | MATIUS ASAL FLORES HIDUP NGONTRAK DEMI BISA KULIAH”. Video yang tayang perdana pada 2 Januari 2026 itu telah ditonton lebih dari 522 ribu kali dalam waktu tiga hari.


Matius mengungkapkan, dirinya mulai menetap di Bali sejak 1999 sebagai sopir taksi. Ia pertama kali datang ke Pulau Dewata pada 1992 saat itu tergabung dalam tim sepak bola NTT untuk mengikuti ajang Pra-PON.
 
 


“Waktu itu Pra-PON, Pak. Kami kalah, tapi akhirnya saya tidak pulang,” ungkap Matius.


Takdir membawanya menetap di Bali. Di sana, ia bertemu dengan perempuan asal NTT yang kemudian menjadi istrinya. Meski telah puluhan tahun bekerja, kehidupan Matius terbilang sederhana. Ia masih mengontrak rumah di kawasan Sesetan, Denpasar.


Penghasilannya sebagai sopir taksi tidak menentu. Saat ramai, pendapatan bisa mencapai Rp1 juta per hari, namun harus dibagi dengan perusahaan karena sistem kemitraan. Selain itu, ia masih menanggung biaya BPJS dan asuransi secara mandiri.
 
 


Meski demikian, Matius berhasil menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi. Anak sulungnya kini berprofesi sebagai dosen di Universitas Warmadewa Bali, sementara anak bungsunya masih menempuh pendidikan di Universitas Udayana, jurusan Ekonomi Pembangunan.


Momen paling menyentuh terjadi ketika Dedi Mulyadi menanyakan kapan terakhir kali Matius pulang ke kampung halaman.


“Terakhir tahun 2018, Pak. Sudah delapan tahun. Saya sih rencana Natalan ini pulang Pak,” kata Matius dengan suara bergetar.
 
Baca Juga: Dari 7 Hektare Jadi 5 Hektare, Ini Alasan Lahan Kampung Nelayan Flores Timur Belum Dibayar

Ia mengaku keinginan pulang terus tertunda karena mahalnya harga tiket pesawat ke NTT yang mencapai sekitar Rp2,5 juta per orang.


Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi secara spontan memberikan bantuan uang sebesar Rp10 juta agar Matius dan keluarganya bisa pulang kampung setelah bertahun-tahun menahan rindu.


Aksi kepedulian tersebut mendapat respons positif dari warganet. Banyak yang mengapresiasi empati Dedi Mulyadi terhadap pekerja kecil dan menilai kisah Matius sebagai potret nyata perjuangan perantau.
 
 
 

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X