Mengurai Konflik Postoh–Amagarapati: Rekonsiliasi Adat Jadi Jalan Damai di Flores Timur

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Selasa, 17 Maret 2026 | 08:56 WIB
Tokoh adat Postoh dan Amagarapati melaksanakan ritual adat serta menaruh sesajian di tugu perbatasan sebagai simbol perdamaian warga di Larantuka, Flores Timur. (Foto TBN Polda NTT)
Tokoh adat Postoh dan Amagarapati melaksanakan ritual adat serta menaruh sesajian di tugu perbatasan sebagai simbol perdamaian warga di Larantuka, Flores Timur. (Foto TBN Polda NTT)

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Rekonsiliasi damai antara warga Kelurahan Postoh dan Kelurahan Amagarapati berlangsung khidmat di Pelataran PPI Larantuka, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Senin (16/3/2026) sore.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Flores Timur bersama unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari kedua kelurahan.

Prosesi adat digelar di tugu perbatasan wilayah sebagai simbol persatuan sekaligus penanda berakhirnya ketegangan yang sebelumnya terjadi di tengah masyarakat.

 

Baca Juga: Polisi Bubarkan Pesta Wisuda Mahasiswa IAKN Kupang Dini Hari di Naimata, Ini Alasannya



Dalam prosesi tersebut, tokoh adat dari Suku Temaluru yang berasal dari Kelurahan Postoh dan tokoh adat dari Suku Dias Alfi dari Kelurahan Amagarapati melaksanakan ritual adat dengan menyampaikan koda atau bahasa adat kepada para leluhur.

Ritual dilanjutkan dengan pertukaran sesajian adat berupa telur, siri pinang, tembakau, serta daun lontar yang dilinting menjadi rokok.

Seluruh sesajian kemudian ditempatkan di tugu perbatasan kedua kelurahan sebagai tanda berakhirnya konflik dan dimulainya kembali kehidupan masyarakat yang rukun.

 

Baca Juga: Bantah Isu Limbah Meluber, Kepala SPPG Ekasapta Pastikan IPAL Sesuai SOP

Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra melalui Kasi Humas Polres Flores Timur AKP Eliezer A. Kalelado menyebut rekonsiliasi adat menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk kembali merajut persaudaraan.

“Kami berharap setelah seremoni adat perdamaian ini tidak ada lagi peristiwa yang memicu gangguan keamanan. Warga dapat kembali beraktivitas normal dan hidup berdampingan secara damai,” kata Eliezer.

Ia menambahkan, Polres Flores Timur bersama pemerintah daerah serta unsur Forkopimda akan terus mengawal situasi keamanan agar tetap kondusif.

 

Baca Juga: Dugaan Pemerasan Rp375 Juta di Balik Kasus Poppers, Perwira Polda NTT Dinonaktifkan

Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra menyampaikan apresiasi dari Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko atas kedewasaan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan melalui pendekatan adat.

“Langkah damai yang ditempuh masyarakat Postoh dan Amagarapati menunjukkan kuatnya nilai persaudaraan serta budaya lokal dalam menjaga stabilitas keamanan,” kata Henry.

Menurut dia, pendekatan berbasis kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial di wilayah Nusa Tenggara Timur.

 

Baca Juga: Lonjakan Penumpang Kapal PELNI Jelang Mudik Lebaran, Kebijakan WFA Ikut Dorong Mobilitas

Rangkaian rekonsiliasi ditutup dengan pembacaan berita acara kesepakatan perdamaian, doa bersama, serta buka puasa bersama warga kedua kelurahan.

Prosesi adat tersebut menjadi penanda berakhirnya konflik sekaligus membuka kembali ruang persaudaraan antara masyarakat Postoh dan Amagarapati.

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X